Rabu 19 Januari 2022, 21:29 WIB

Gender Shaming Jadi Salah Satu Penghambat Perempuan di Dunia Kerja 

Despian Nurhidayat | Ekonomi
Gender Shaming Jadi Salah Satu Penghambat Perempuan di Dunia Kerja 

Antara/Indrianto Eko Suwarso
Pekerja melintas di jalur pedestrian Dukuh Atas, Jakarta saat jam pulang kerja

 

MENTERI Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menyebut masih banyak hambatan yang dihadapi perempuan untuk mampu berdaya di dunia kerja. Mulai dari beban ganda yang dihadapi perempuan hingga kekerasan dan pelecehan di tempat kerja. 

Dalam webinar CSR PLN bersama Metro TV bertajuk Gender Shaming di Dunia Kerja di Jakarta, Rabu (19/1), Ida menegaskan, salah satu faktor yang ikut menghambat adalah masih adanya gender shaming alias stereotip dan seksisme yang menjadi akar diskriminasi berbasis gender terhadap perempuan. 

"Adanya perilaku ini menyebabkan perempuan seringkali diremehkan di tempat kerja, dianggap sebagai penghambat dan memiliki produktivitas lebih rendah. Hal ini kontraproduktif dengan tujuan kita semua, untuk terus meningkatkan pemberdayaan perempuan di dunia kerja agar bisa memberikan dampak positif pada perekonomian dari level individu, keluarga hingga negara," ungkapnya. 

Data ketenagakerjaan, dari jumlah angkatan kerja di Indonesia yang mencapai 140 juta orang, hanya sekitar 40 persennya adalah perempuan. Ida menilai hal tersebut disebabkan angka Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan masih berada jauh di bawah laki-laki. Yakni, TPAK laki-laki sebesar 82,27% dan perempuan hanya sebesar 53,34%. 

"Selain hanya menunjukkan peningkatan kecil dalam beberapa tahun terakhir, angka TPAK Perempuan kita juga masih di bawah beberapa negara pesaing terdekat kita seperti Vietnam dan Thailand," ujar Ida. 

Baca juga : Inflasi Inggris Alami Percepatan, Warganya Tertekan Biaya Hidup

Dia menambahkan, data ketimpangan bagi perempuan juga sudah terlihat dalam aspek pendidikan yang menjadi modal dasar untuk berdaya di dunia kerja. Persentase angkatan kerja perempuan yang berpendidikan rendah (SMP ke bawah), lebih besar dibandingkan laki-laki. Sedangkan untuk angkatan kerja dengan tingkat pendidikan menengah (SMA dan SMK), persentase perempuan justru lebih rendah dibandingkan laki-laki. 

Namun saat ini pemerintah, lanjut Ida, berkomitmen terus meningkatkan kesetaraan gender melalui arah kebijakan dan strategi terkait gender dalam RPJMN 2020-2024. 

"Salah satu targetnya yakni untuk meningkatkan TPAK perempuan hingga mencapai angka 55 persen pada tahun 2024," tegasnya. 

Melalui Kemenaker, pemerintah juga terus berkomitmen mendukung pemberdayaan perempuan di tempat kerja, salah satunya dengan melindungi pekerja perempuan dan memberikan rasa aman dalam pemenuhan hak-haknya. 

"Mulai dari hak di bidang reproduksi, hingga hak dalam hal K3, kehormatan dan pengupahan," pungkas Ida. (OL-7)

Baca Juga

Ist/Kementan

Mentan SYL Optimistis PMK Dapat Diatasi Segera

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 18 Mei 2022, 13:08 WIB
Mentan SYL mengajak agar semua pihak turun langsung dan terlibat aktif dalam menekan jumlah penularan. Menurutnya, penyakit tersebut bisa...
MI/USMAN ISKANDAR

Bahlil: Tahun Ini Pemerintah akan Setop Ekspor Bauksit dan Timah

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 18 Mei 2022, 12:57 WIB
Ekspor nikel Indonesia selama ini hanya menghasilkan US$2 miliar, sementara pada tahun 2022 ini dikatakan ekspor hilirisasi nikel yakni...
ANTARA/GALIH PRADIPTA

Menteri Investasi: Presidensi G20 Indonesia Momentum Terbaik Bangkitkan Ekonomi

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 18 Mei 2022, 12:42 WIB
"Indonesia pertumbuhan ekonomi nasional kita pada kuartal I 2022 5,1% dan alhamdulillah pengelolaan covid-19 kita salah satu terbaik...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya