Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
GAS bumi menjadi hal yang diidamidamkan sebagian masyarakat. Tak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tapi juga untuk kebutuhan angkutan atau transportasi umum.
Untuk lingkungan rumah tangga, misalnya 25 tenant cafe dan restoran di pusat perbelanjaan Grand City Jakarta telah menggunakan gas bumi sejak Februari 2014.
“Itu membuktikan penggunaan gas bumi sangat disenangi oleh masyarakat, termasuk pengelola kafe dan restoran. Karena itu, kami amat mendukung upaya pemerintah yang akan membangun jaringan gas bumi,” ungkap Chief Engineering Grand City, M Kasipan, di Jakarta, Jumat (22/4).
Pada lingkup transportasi umum, gas bumi yang dikelola melalui stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) pun dirasakan manfaatnya oleh sopir angkutan umum, seperti Mulyanto, 55.
Sopir bajaj ramah lingkungan yang setiap hari menggunakan bajaj dengan bahan bakar gas (BBG) itu mengaku biaya yang dikeluarkan lebih rendah ketimbang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).
Ia menuturkan untuk pengoperasian bajaj setengah hari bila menggunakan BBM biayanya mencapai Rp20 ribu, sedangkan menggunakan BBG hanya Rp12 ribu.
“Sayangnya jumlah SPBG (stasiun pengisian bahan bakar gas) di Jakarta masih jauh dari ideal. Di Jakarta yang saya tahu hanya ada 17 SPBG dan dua di antaranya SPBG mobile,” kata Mulyanto di Jakarta, Jumat (22/4). Dia berharap pada pemerintah bisa menambah jumlah SPBG sehingga jumlah ideal tercapai untuk menutupi kebutuhan BBG pada masyarakat.
Terkait dengan itu, Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Hendi Prio Santoso menyampaikan masih minimnya jumlah SPBG di Indonesia lantaran keterbatasan jumlah lahan. Meski begitu, hambatan itu tak lantas mematahkan tekad pemerintah saat ini untuk terus memberikan layanan akses gas bumi seluasluasnya untuk masyarakat.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Ditjen Migas terus memperluas pasokan gas bagi masyarakat Indonesia. Hal itu antara lain diwujudkan dengan membangun jaringan gas bumi untuk rumah tangga di 10 kota.
Ke-10 kota tersebut ada di Palembang (3.311 rumah tangga), Prabumulih (4.650), Jabodetabek (17.882), Cirebon (4.000), Surabaya (2.900), Sengkang (4.172), Bontang (3.960), Tarakan (3.366), Sidoarjo (6.500), dan Jambi (4.000). Sementara itu, jaringan gas bumi untuk rumah tangga kini sedang dibangun ada di Lhoksukon (4.000) dan Pekanbaru (4.000).
Ditjen Migas juga berencana membangun jaringan gas bumi untuk rumah tangga di sembilan kota, yakni Ogan Ilir (3.725), Subang (4.000), Blora (4.000), Sidoarjo (3.850), Sorong (3.898), Lhokseumawe (3.997), Bekasi (3.949), Semarang (4.000), dan Bulungan (3.300).
“Kami berharap lewat pembangunan jaringan gas bumi ini membuat akses masyarakat untuk menikmati gas bumi menjadi lebih mudah,” ujar Dirjen Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmadja, baru-baru ini.
Hal itu didukung Supriono, 57, pekerja di sebuah perusahaan swasta. Ia mendukung upaya pemerintah tersebut lantaran dengan jaringan gas bumi membuat dirinya nyaman serta tidak khawatir kehilangan pasokan elpiji. Selain itu, jaringan gas bumi rumah tangga membuat dirinya bisa hemat. Biasanya Supriono mengeluarkan biaya per bulan Rp100 ribu dengan elpiji, kini cuma Rp40 ribu dengan gas bumi. “Harga gas bumi lebih stabil dan murah,” pungkas Supriono. (Bow/S-25)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved