Rabu 29 September 2021, 14:44 WIB

Survei Cigna: Indeks Persepsi Kesejahteraan Indonesia 2021 Turun

Widhoroso | Ekonomi
Survei Cigna: Indeks Persepsi Kesejahteraan Indonesia 2021 Turun

MI/Agus M
Presdir & CEO Cigna Indonesia Phil Reynolds (kiri) dan Dir Pemasaran & Kerja Sama Cigna Indonesia Akhiz Nasution saat paparan, Rabu (29/9)

 

PANDEMI Covid-19 yang telah terjadi selama dua tahun berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Covid-19 membuat membuat tingkat kesejahteraan masyarakat dunia, termasuk Indonesia melemah.

Hal ini terungkap dalam survei skor kesejahteraan 360° Cigna yang dilakukan pada kuartal kedua 2021. Survei dilakukan di 21 negara diantaranya  Amerika Serikat, Britania Raya, Jerman, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Australia, Jepang, Singapura, Thailand, dan Indonesia dengan responden lebih dari 18 ribu.

Survei dilakukan untuk menilai persepsi kesejahteraan responden di setiap negara dalam lima aspek, yakni kesehatan fisik, hubungan sosial, keluarga, finansial, dan pekerjaan. Berdasarkan hasil survei, pelemahan indeks persepsi kesejahteraan ini terjadi di 21 negara yang disurvei akibat pandemi Covid-19.

Hasil survei menunjukkan, indeks persepsi kesejahteraan Indonesia 2021 tercatat sebesar 63,8 poin atau lebih rendah dari 2019 yakni 65,4 poin dan 66,3 poin di 2020. Namun, indeks persepsi kesejahteraan Indonesia pada 2021 masih tinggi dibanding baik dari negara ASEAN lainnya seperti Singapura (59,2 poin) dan Thailand (62,5 poin).

President Director & CEO Cigna Indonesia, Phil Reynolds mengatakan, Cigna menjalankan survei tersebut secara rutin selama tujuh tahun terakhir dengan tujuan memahami persepsi orang-orang tentang kesejahteraan. "Dengan demikian, kami dapat terus berinovasi menyediakan solusi yang relevan untuk membantu orang-orang yang kami layani buat meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan ketenangan mereka,” ungkap dia di Jakarta, Rabu (29/9).

Phil Reynolds menambahkan sejak Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada Maret 2020 lalu mengumumkan bahwa Covid-19 menjadi pandemi global, hal tersebut langsung berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan, termasuk persepsi kesejahteraan.

"Dikatakan, kondisi pandemi itu memaksa seluruh dunia beradaptasi dengan tantangan yang ada. Hal tersebut tercermin dari hasil survei di mana pandemi memberikan dampak sistemik terhadap kondisi ekonomi, kesehatan, dan sosial masyarakat," jelasnya.

Hasil survei yang dilakukan Cigna mengonfirmasi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan, naiknya jumlah penduduk miskin setahun terakhir ini karena pandemi. BPS mencatat jumlah penduduk miskin secara nasional pada Maret 2021 sebanyak 27,54 juta jiwa atau naik 1,12 juta orang (meningkat 0,36 persen) dibanding Maret 2020.

Sementara, Kementerian Ketenagakerjaan menyebutkan hingga Maret 2021, ada 29,4 juta orang terdampak pandemi Covid-19. Jumlah itu termasuk mereka yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dirumahkan tanpa upah, hingga pengurangan jam kerja dan upah.

Tekanan ekonomi itu juga diakui Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut dampak pandemi Covid-19 mengakibatkan tingkat kemiskinan Indonesia naik dari 9,22 persen pada September 2019 menjadi 10,19 persen pada September 2020. Namun, dengan pemulihan ekonomi yang terjadi pada kuartal kedua 2021, tingkat kemiskinan mulai menunjukkan perbaikan di 10,14 persen.

Sementara itu, Direktur Pemasaran dan Kerja Sama Strategis Cigna Indonesia, Akhiz Nasution menyebutkan penurunan skor kesejahteraan tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun seluruh negara yang disurvei. Dikatakan, yang paling terdampak adalah pilar kesejahteraan dengan skor penurunan sebesar 1,5 poin.

"Hal ini terjadi karena pembatasan (lockdown) yang diterapkan di negara-negara dunia sebagai dampak pandemi. Akibatnya, masyarakat tidak bisa menjalin hubungan sosial seperti layaknya sebelum pandemi," jelasnya.

Ditambahkan Akhiz, untuk Indonesia, skor persepsi kesejateraan sosial turun dari 68,5 pada tahun sebelumnya menjadi 66,5 pada 2021. Penurunan terbanyak terjadi pada item 'waktu bersama teman' yang anjlok dari 31 menjadi 24. "Ini menjadi penurunan terbesar dibanding negara tetangga karena kebiasaan orang Indonesia yang senang berkumpul bersama teman dan keluarga," tambahnya.

Di sisi lain, persepsi kesejaheraan keuangan juga mengalami penurunan skor dari 59,1 pada tahun sebelumnya menjadi 53,6 pada tahun 2021. Salah satu diantaranya adalah anjloknya kemampuan membayar Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari 36 ke 24 atau turun 12 poin. Angka ini lebih rendah dari Thailand yang tidak mengalami penurunan.

Disebutkan, kemampuan menyiapkan biaya kesehatan dan pendidikan juga menurun. Demikian pula kemampuan finansial untuk dapat melakukan hobi atau liburan bersama keluarga anjlok delapan poin dari 26 menjadi 18.

"Khusus untuk kelompok usia menengah, mereka merasa tidak nyaman dengan keamanan keuangan jika terjadi hal darurat, seperti membiayai kesehatan yang tak terprediksi terutama bila terpapar Covid-19," ujaranya. (RO/OL-15)

Baca Juga

dok.Ant

Transaksi Agen BRILink Tembus Rp1.000 Triliun

👤Fetry Wuryasti 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 10:55 WIB
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat volume transaksi melalui AgenBRILink mencapai Rp1.002 triliun hingga November...
Antara/Ismar Patrizki

Tok! Pengadilan Telah Putuskan, Kubu Penolak Nurdin Disarankan Gabung ke Dekopin 

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 10:08 WIB
Dekopin secara tegas mendukung Langkah-langkah pemerintah dalam memperbaiki pertumbuhan...
Ist/Kementan

Kementan Sepakati Kerja Sama Produk Pertanian

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 04 Desember 2021, 08:40 WIB
Kementan berhasil menjalin kesepakatan kerja sama produk pertanian melalui agenda One Day with Indonesian Coffee, Fruits, and...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya