Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Menangkap Peluang Investasi Tren Ekonomi Digital dan Teknologi

Mediaindonesia.com
21/8/2021 16:40
Menangkap Peluang Investasi Tren Ekonomi Digital dan Teknologi
Webinar DBS eTalk Series bertajuk 'Navigating the Opportunities in New Economy' yang digelar private banking DBS Treasures Private Client.(Dok.DBS)

TREN ekonomi digital dan teknologi diprediksi akan terus berkembang sebagai new economy setidaknya hingga 2030 mendatang. Hal itu terlihat dari outlook ekonomi global, perkembangan pasar modal, serta kenaikan industri ekonomi digital dan e-commerce. Berdasarkan data yang tertera di Kementerian Keuangan, pertumbuhan ekonomi digital akan tumbuh delapan kali lipat di tahun 2030.

Adapun E-commerce juga akan memiliki peran yang sangat besar, yaitu sebesar 34%. Selain itu, B2B juga akan tumbuh sebesar 13% dan health-tech sebesar 8%.  Demikian salah satu kesimpulana dalam webinar DBS eTalk Series bertajuk “Navigating the Opportunities in New Economy' yang digelar private banking DBS Treasures Private Client.

Baca juga: Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pedesaan Melalui Digitalisasi
 
Pandu Sjahrir, Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Managing Partner Indies Capital Partners, menyampaikan bahwa pandemi mendorong adaptasi tren konsumsi digital lebih cepat lima tahun dari yang diperkirakan pada industri edukasi, logistik, e-commerce, health-tech, asuransi, dan transaksi investasi. Melengkapi para pelaku usaha ritel tradisional, keberadaan e-commerce kini mulai mengambil porsi yang cukup besar, hingga 10% dari total pasar ritel yang mencapai US$300 miliar.

Beberapa perusahaan yang terkait ekonomi digital seperti e-commerce sedang menjalani proses penawaran umum perdana (IPO). Hal itu selaras dengan berkembangnya angka investor di pasar modal Indonesia. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), angka Year on Year (YoY) investor pasar modal nasional tercatat meningkat sebesar 93% menjadi 5,82 juta hingga periode Juli 2021.

Djoko Soelistyo, Head of Investment and Advisory Bank DBS Indonesia, menjelaskan salah satu indikator pesatnya pertumbuhan -perusahaan dengan inovasi teknologi yang menjadi bagian dari new economy, adalah dari performa NYSE R&D Innovation Index sejak 2000 yang telah bertumbuh sebesar 449%, jauh diatas performa Nasdaq Index.

Perubahan lanskap di era new economy ini sudah disikapi sejak awal oleh DBS Treasures Private Client untuk memanfaatkan peluang baru yang mulai bermunculan. “Kami merancang dan merekonstruksi strategi wealth preservation nasabah sesuai dengan perkembangan pasar untuk mengelola kekayaan secara maksimal. Dalam kaitannya dengan sektor new economy, curated wealth solutions kami mencakup layanan eksklusif private banking yang tidak tersedia di semua bank, berupa pengelolaan dana nasabah individual di portofolio global serta reksa dana di market dalam dan luar negeri. Kemudahan dalam mengoptimalkan dinamika peluang investasi tangguh secara 24/7 dapat dengan mudah didapatkan melalui aplikasi digibank by DBS. Kini nasabah dapat menikmati fleksibilitas strategi reksa dana hingga yang berbasis efek syariah  luar negeri, peluang obligasi dalam IDR dan USD, serta transaksi lebih dari 20 mata uang asing dengan nilai tukar real-time,” ujar Djoko.

Keberhasilan DBS Treasures Private Client diakui dengan berbagai penghargaan global. Penghargaan tersebut meliputi Best International Private Bank sebagai 1st Country Winner Indonesia dari Asiamoney Private Banking Awards (2021) dan The World’s Best Banks sebagai 1st Country Winner Indonesia dari Forbes (2021). Serta penghargaan lainnya yaitu Best Bank in the World dari Euromoney dan Global Finance yang diraih selama tiga tahun berturut-turut (2018-2020), dan Safest Bank in Asia, Global Finance selama 12 tahun berturut-turut (2009-2020). (RO/A-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Maulana
Berita Lainnya