Senin 16 Agustus 2021, 06:50 WIB

Untuk Ibu Pertiwi, Pertamina Terus Jaga Ketahanan Energi

MI | Ekonomi
Untuk Ibu Pertiwi, Pertamina Terus Jaga Ketahanan Energi

Dok. Pertamina
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah salah satu implementasi komitmen Pertamina dalam akselerasi transisi energi.

 

SEJAK 9 Agustus 2021, Pertamina resmi melakukan pengelolaan Blok Rokan. Momen ini menjadi energi yang mendorong Pertamina untuk terus menjaga kedaulatan energi bangsa Indonesia.

Proses transisi alih kelola Blok Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) ke PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), anak usaha PT Pertamina Hulu Energi, berjalan lancar berkat dukungan semua pemangku kepentingan, terutama pemerintah pusat dan daerah, serta mitra bisnis PHR.

Gubernur Riau Syamsuar menyampaikan Pemprov Riau siap mendukung pengelolaan langsung Blok Rokan oleh Pertamina. Diharapkan ke depannya Blok Rokan memberikan kontribusi yang semakin signifikan untuk pemenuhan kebutuhan energi migas nasional.

Direktur Utama PHR Jaffee A Suardin menyampaikan guna mempertahankan dan meningkatkan produksi migas Blok Rokan, PHR merencanakan pengeboran 161 sumur pengembangan pada 2021. Selain itu, Jaffee Arizon Suardin menambahkan, 2.689 karyawan Chevron di Blok Rokan telah bergabung dengan Pertamina sehingga operasional Blok Rokan akan dikerjakan tim yang sudah berpengalaman.

Seperti diketahui, Blok Rokan yang berada di Provinsi Riau, dengan luas wilayah kerja mencapai 6.453 kilometer persegi ini, tercatat menghasilkan sekitar 165.000 barel minyak per hari atau sekitar 24% produksi minyak nasional.

Selain itu untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional, Pertamina melalui PT Kilang Pertamina Internasional (PT. KPI) juga terus melakukan upaya pengembangan kilang untuk meningkatkan kapasitas serta produksi minyak dan petrokimia, meliputi pengembangan ki­lang eksisting, pembangunan kilang baru, pengembangan kilang biorefinery serta kilang petrokimia.

Proyek-proyek tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan dari 1 juta barrel per hari menjadi sekitar 1,4 juta bpd dengan produksi minyak yang meningkat dari 600 kbpd menjadi 1,2 juta bpd serta produksi petrokimia dari 1.660 ktpa menjadi 11.000 ktpa. 

Pelaksanaan proyek-proyek strategis nasional tersebut baik Refinery Development Master Plan (RDMP) maupun Grass Root Refinery (GRR) ditargetkan selesai antara tahun 2025 hingga 2027.


Kibarkan Energi Indonesia di Kancah Dunia

Pertamina melalui anak­-anak usahanya terus menge­pakkan sayap bisnisnya ke berbagai belahan dunia untuk tumbuh dan tangguh menghadapi persaingan.

Anak usaha di bidang hulu migas Pertamina Internasional EP (PIEP) bergerak mengakusisi dan mengelola lapangan migas overseas serta mencari sumber-sumber migas di berbagai negara. Sejak didirikan tahun 2013, melalui aset lapang­an migas luar negeri yang tersebar di 13 negara, PIEP telah berkontribusi sebanyak 49,9 juta barrel minyak atau dengan nilai berkisar US$2,8 milliar yang dikirimkan ke dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan kilang domestik sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap perbaikan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI)/Current Account Deficit.

“Secara total 76% hasil mi­nyak dari luar negeri diupayakan dikirimkan ke kilang domestik untuk mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional,” ujar Fajriyah Usman, Pjs SVP Corporate Communication and  Investor Relations Pertamina.

Di sektor hilir, Pertamina International Marketing & Distribution (PIMD) dan Pertamina Lubricant terus memperluas ekspor produk-produk unggulannya ke pasar global. Beragam produk unggulan Pertamina yang telah diterima pasar internasional antara lain Avtur, MFO, DCO, HVR-1, LCO Paraxylene, dan produk-produk Pelumas berkualitas.

Sepanjang Januari-Juni 2021, volume penjualan produk Pertamina melalui PIMD di pasar ekspor mencapai 3.999 MT dengan menghasilkan revenue US$ 1.905 juta. Adapun total penjualan pelumas Pertamina Lubricant tahun 2020 mencapai Rp1,79 triliun.

“Revenue PIMD mencapai 121% di atas target didukung oleh tren harga produk yang meningkat selaras dengan peningkatan harga minyak serta volume penjualan yang juga mulai meningkat,” imbuh Fajriyah.

Pergerakan bisnis Pertamina sebagai global player juga ditunjukkan Pertamina International Shipping (PIS). Sebelas armada kapal PIS telah berlabuh dan bersandar di pelabuhan internasional dengan tiga di antaranya berhasil memperoleh Certificate of Compliance dari United States of America Coast Guard.

Tahun 2021 merupakan tahun pembuktian bagi PIS sebagai Integrated Marine Logistics Company yang dipercaya di pasar internasional dengan catatan kinerja positif di semester 1 berupa laba bersih sebesar 127% dari target RKAP. PIS juga meresmikan tanker raksasa VLCC Pertamina Pride dan Pertamina Prime, serta melakukan kontrak kerjasama dengan anak usaha Petronas group yaitu Petco Trading Labuan Company Limited (PTLCL).

Menurut Fajriyah, gencarnya inovasi bisnis Pertamina di pasar dunia sebagai bagian dari upaya perseroan membidik valuasi pasar US$100 milliar sehingga akan mengokohkan Pertamina sebagai perusahan migas kelas dunia. 

“Saat ini merupakan kebanggaan tersendiri di HUT ke-76 RI, Pertamina menjadi satu-satunya perusahaan asal Indonesia masuk daftar Fortune Global 500 tahun 2021. Dengan nilai revenue perusahaan sebesar US$41,47 miliar pada tahun buku 2020, Pertamina berada di posisi 287,” pungkas Fajriyah.


Akselerasi Pengembangan Energi Bersih untuk Masa Depan Berkelanjutan

Seiring dengan target pemerintah untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025, Pertamina sebagai badan usaha milik negara (BUMN) energi mendukung upaya pemerintah untuk mencapai target tersebut, salah satunya yaitu dengan berupaya meningkatkan portfolio energi hijaunya hingga 17% pada 2030. 

Termasuk dalam portofolio tersebut antara lain geothermal, hydrogen, electric vehicle (EV) battery dan energy storage system (ESS), gasifikasi, bioenergy, green refinery, circular carbon economy, serta EBT.

Pjs SVP Corporate Communication & Investor Relation Pertamina, Fajriyah Usman mengungkapkan bahwa dekarbonisasi adalah salah satu sasaran dari pengembangan EBT di Pertamina untuk mendukung komitmen pemerintah menekan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada 2030.

“Transisi pemanfaatan energi hijau yang sejalan dengan upaya dekarbonisasi dan efisiensi, dilakukan salah satunya melalui pengelolaan bisnis gas bumi,” imbuh Fajriyah.

Dalam captive market Pertamina, Gas bumi akan dioptimalkan untuk proyek gasifikasi di Kilang RU IV Cilacap, Kilang Balikpapan, dan pemenuhan gas bumi ke RU Balongan guna efisiensi energi. Selain itu upa­ya pengurangan emisi juga dilakukan melalui penggunaan bahan bakar LNG pada kapal milik Pertamina.

Program jaringan gas rumah tangga juga terus didorong. Pertamina melalui Subholding Gas telah mengelola jaringan gas (jargas) sebanyak lebih dari 500 ribu Sambungan Rumah (SR) dan ditargetkan dapat terus bertumbuh sesuai target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yaitu 4 Juta SR pada tahun 2024 bahkan lebih.

Pemanfaatan EBT yang dilakukan oleh Pertamina adalah geothermal atau panas bumi. Selain untuk menghasilkan listrik, geothermal juga bisa mengurangi emisi dengan mengoptimalkan sumber daya energi domestik yang melimpah. 

Keberadaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berperan mengurangi emisi gas buang karbondi­oksida (CO2). Berdasarkan perhitungan versi Carbon Neutral Calculator, potensi pengurangan gas rumah kaca bahkan mencapai 14,91 juta ton CO2 per tahun. 

Jumlah itu didapatkan berdasarkan kapasitas PLTP di Indonesia sebesar 2.130,6 Megawatt. Pertamina Geothermal Energy (PGE) sebagai bagian dari Sub Holding Pertamina PNRE yang sudah mengoperasikan pembangkit listrik geothermal sejak hampir lima dekade lalu sudah turut mengurangi berjuta-juta ton gas CO2.

Saat ini saja, dengan kapasitas 672 MW, PGE berpotensi telah berpartisipasi mengurangi 3,6 juta ton CO2 per tahun, dimana pada 2026 ditargetkan tumbuh menjadi 10 Gigawatt. Partisipasi pengurangan CO2 ini merupakan wujud nyata dalam upaya penyelamatan lingkungan global.

Di masa depan, tambah Fajriyah, sektor transportasi akan diwarnai oleh pertumbuhan Electric Vehicle (EV). Mengantisipasi trend tersebut Pertamina ikut berpartisipasi dalam Joint Venture (JV) Indonesia Battery Company yang akan memproduksi baterai 140 GWh pada 2029 dan pada saat bersamaan juga mengembangkan ekosistem baterai EV termasuk bisnis swapping and charging. Wujud inisiasi stra­tegis ini, menurut Fajriyah, terlihat pada hadirnya 64 Green Energy Station di area Jakarta dan sekitarnya, dimana 5  diantaranya merupakan unit pilot Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

Pertamina juga mengajak masyarakat di berbagai desa untuk memenuhi kebutuhan dengan memanfaatkan sumber daya energi terbarukan yang lebih terjangkau, dapat diandalkan, dan berkelanjutan sehingga bisa memberikan dampak kemajuan baik secara ekonomi dan lingkungan. Program yang disebut Desa Energi Berdikari ini telah direalisasikan di lebih dari 10 desa yang menghasilkan energi sebesar 35.400 kilowatt-hour (Kwh) dan 95.400 liter bahan bakar alternatif (BBA), serta peningkatan pendapatan masyarakat lebih dari Rp870 juta/tahun. (Gan/S3-25)

Baca Juga

Ist

RUPSLB Adira Finance Putuskan Perubahan Komposisi Dewan Komisaris

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 04 Oktober 2022, 22:51 WIB
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance atau Perusahaan) telah melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa...
Ilustrasi

Kemenperin Siap Produksi Dua Juta Unit Sepeda Motor Listrik

👤Ficky Ramadhan 🕔Selasa 04 Oktober 2022, 22:37 WIB
Menperin optimis target dua juta sepeda motor listrik di tanah air sangat...
Ist

Unifam Raih Kembali Stellar Workplace Award 2022

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 04 Oktober 2022, 22:09 WIB
Untuk kali kedua Unifam berhasil meraih “2022 Stellar Workplace Recognition in Employee Commitment &...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya