Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
HASIL riset Cushman & Wakefield menyebutkan jumlah ruang kosong di subsektor perkantoran masih berlangsung tahun ini.
Akibatnya, terjadi penurunan harga sewa ruang perkantoran.
Di sisi lain, pasokan ruang perkantoran baru masih terjadi.
Lesunya permintaan ruang perkantoran tersebut juga akibat belum bergeraknya perekonomian nasional maupun global.
"Permintaan ruang perkantoran dari bisnis yang terkait dengan bidang minyak dan gas menurun selama kuartal pertama tahun ini. Permintaan ruang perkantoran dari bisnis perbankan dan keuangan juga melemah akibat dari pertumbuhan bisnis yang lebih lambat tahun lalu," ujar Director Research and Advisory Cushman & Wakefield Arief Rahardjo di Jakarta, kemarin.
Data Cushman & Wakefield menyebutkan pasokan ruang perkantoran di kuartal I 2016, antara lain sebanyak 1,64 juta m2 yang sedang dibangun.
Selain itu, ada ruang perkantoran yang siap memasuki pasar di awal tahun ini sebanyak lima gedung dengan total luas 270.000 m2.
Menurut Arief, penyerapan ruang perkantoran di kuartal pertama tahun ini hanya 8.300 m2, masih lebih baik daripada kuartal yang sama tahun lalu dengan tingkat penyerapan minus 21.800 m2 dari ruang kantor yang tersedia.
Namun, tingkat kekosongan ruang kantor melonjak tinggi dari 8,12% di kuartal I 2015 menjadi 18,64%.
"Pasokan secara kumulatif (termasuk tahun lalu dan yang kosong) menjadi 5,51 juta m2. Selain itu, juga akan terjadi penambahan pasokan yang diproyeksi akan memasuki pasar dalam sembilan bulan ke depan sebanyak 297.000 m2," urai Arief.
Sementara, tambahnya, dari sisi permintaan secara kumulatif hanya 4,48 juta m2.
Akibat ruang kosong yang mencapai 1 juta m2, jelas Arief, terjadi tren penurunan harga sewa.
"Harga sewa bruto dalam rupiah secara rata-rata sebesar Rp320.600/m2/bulan pada akhir Maret 2016 turun 7,2% dari kuartal yang sama di tahun lalu. Harga sewa dalam mata uang dolar juga turun 4% dari kuartal I 2015 yang sebesar US$26,58 menjadi US$24,34/m2/bulan."
Arief mengemukakan permintaan ruang perkantoran pada awal tahun ini didominasi industri teknologi informasi dan sebagian kecil oleh firma hukum.
"Dengan mengambil keuntungan dari harga sewa yang turun, beberapa penyewa aktif mencari tempat yang lebih berkualitas untuk bisnis konsolidasi dan relokasi."
Meningkat
Di pasar perkantoran diprediksi terjadi peningkatan ruang kosong sehingga tingkat keterhunian ruang kantor menjadi lebih rendah.
Tingginya tingkat kekosongan akan menyebabkan terjadinya penurunan harga sewa rata-rata, terutama untuk gedung-gedung kelas A.
"Tingkat okupansi ruang perkantoran pada kuartal pertama tahun ini sebesar 81,36%, turun jauh dari kuartal yang sama tahun lalu, yakni sebesar 91,85%. Secara rata-rata tingkat okupansi tahun lalu sebesar 85,4% dan tahun ini secara keseluruhan diprediksi anjlok hingga 79%."
Kondisi pasar perkantoran yang lesu, menurut Arief, masih akan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang, setidaknya hingga 2018.
Hal itu karena pasokan ruang perkantoran baru masih akan terus bertambah hingga 2018.
"Di 2019, pasar perkantoran diprediksi baru akan mulai pulih dengan catatan kondisi perekonomian terus membaik dan juga pasokan ruang perkantoran mulai direm tidak sebanyak pasokan saat ini hingga 2018 mendatang.".
Executive Director of Investment Cushman & Wakefield in Indonesia Handa Sulaiman menilai saat ini perkantoran butuh bantuan.
"Harus diciptakan pasar yang bagus dengan biaya sewa yang murah tetapi tetap menguntungkan." (S-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved