Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Triwulan I,Industri Manufaktur Tertekan

Arv
12/4/2016 06:30
Triwulan I,Industri Manufaktur Tertekan
(ANTARA/Zabur Karuru)

BANK Indonesia menyatakan industri manufaktur menghadapi banyak tantangan selama triwulan I 2016.

Hal itu terlihat dari indeks pertumbuhan manufaktur (prompt manufacturing index/PMI) yang tertekan karena turunnya persepsi perusahaan terhadap volume pesanan dan jumlah tenaga kerja.

Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Hendy Sulistyowati, di Jakarta, kemarin, mengatakan berdasarkan PMI, terjadi kontraksi yang disebabkan dua faktor utama, yakni kontraksi volume total pesanan dan jumlah tenaga kerja.

Kontraksi pada permintaan dan jumlah tenaga kerja itu membuat PMI turun menjadi 46,69% dari 48,23% di triwulan IV 2015.

Indeks PMI di bawah 50% menunjukkan kontraksi, sedangkan di atas 50% memperlihatkan ekspansi.

Penurunan PMI juga diperkuat dengan kontraksi kegiatan usaha industri yang terlihat dari penurunan saldo bersih tertimbang (SBT) PMI menjadi minus 0,77% dari triwulan IV 2015 sebesar minus 0,34%.

BI melakukan survei PMI yang juga bagian dari survei kegiatan dunia usaha (SKDU) triwulan I 2016, dengan melibatkan 2.964 perusahaan.

"Untuk triwulan I, industri ini memang masih belum ekspansi. Bisa juga dilihat dari laju impor yang baru naik di akhir triwulan I," ujar Hendy.

Dari survei BI itu, beberapa perusahaan pelaku industri mulai optimistis di triwulan II. PMI triwulan II sebesar 51,37%.

"Ekspansi industri manufaktur didorong dengan indeks produksi yang baik menjadi 60,55% dan persediaan barang yang naik menjadi 50,52%," tutur Hendy. (Arv/Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya