Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kekang Inflasi lewat Aplikasi

Fathia Nurul Haq
12/4/2016 06:00
Kekang Inflasi lewat Aplikasi
(ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

PEMERINTAH tengah merintis pertanian berbasis aplikasi, yakni dengan memanfaatkan aplikasi daring sebagai forum komunikasi petani dengan pakar penyuluh dan untuk pemasaran.

Metode itu ditargetkan dapat meningkatkan pendapatan petani sebesar 15% dan menekan harga bahan pangan di tingkat konsumen sebesar 15%.

Salah satu aplikasi yang dirintis ialah Limakilo.co.id, yakni aplikasi gratis, yang dapat diunduh lewat Play Store, yang digunakan konsumen untuk mempermudah pemesanan langsung kepada petani.

"Aplikasi Limakilo.co.id itu targetnya penghasilan petani bisa naik 15%, harga beli di konsumen bisa turun 15%," kata Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong di Hotel Aston Cirebon, Jawa Barat, kemarin.

Menurut Thomas, aplikasi itu juga memudahkan pemerintah untuk mengontrol harga di pasaran.

Sayangnya, aplikasi itu baru tersedia di Bandung dan Jakarta.

Pada kesempatan itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menguraikan beberapa aplikasi yang terkait dengan sektor pertanian yang sudah tersedia, misalnya, aplikasi penyuluhan pertanian yang sudah diikuti 116 ribu akun.

Mayoritas pemilik akun ialah petani.

"Dengan aplikasi yang ada dia bisa 24 jam. Penyuluhnya tidak hanya satu. Ada 116 ribu akun anggota dari penyuluhan pertanian itu," kata Rudiantara.

Aplikasi lain, menurut Rudi, memungkinkan konsumen sayur dan buah untuk memperoleh bahan yang masih segar.

Aplikasi-aplikasi itu sudah berjalan meski belum banyak diketahui khalayak. Rudi mengatakan kendala pertanian berbasis aplikasi terletak pada akses teknologi para petani yang terbatas.

Selama ini aplikasi itu diakses anak atau kerabat petani saja.

"Ke depannya memang butuh edukasi."

Rudi juga mengungkapkan, dari studi yang dilakukan McKinsey selama 4 tahun aplikasi itu berjalan, pendapatan petani telah meningkat secara agregat Rp155 triliun.

Survei itu juga mengatakan ada peningkatan produktivitas petani seiring dengan meningkatnya pendapatan.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) memperkenalkan aplikasi berbasis Android yang dapat dipergunakan untuk memantau informasi harga dan produksi komoditas.

Aplikasi itu bernama Sihati atau Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi yang diperkenalkan BI pada kegiatan Sinergi Aksi untuk Ekonomi Rakyat yang diresmikan Presiden Joko Widodo, di Brebes, Jawa Tengah, kemarin.

Tekan inflasi

Menurut Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, program Sinergi Aksi untuk Ekonomi Rakyat itu merupakan langkah responsif dalam menekan inflasi tahunan.

"Kamu kan mengikuti inflasi kemarin 0,19% dan itu ketika diteliti 0,16% dari bawang merah. Bawang merah itu kenapa? Karena di Maret kenaikan harga sampai 30% lebih dan bobotnya 0,66%. Makanya tinggi," kata Agus seusai peresmian di Desa Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kemarin.

Itulah yang menyebabkan komoditas bawang dan cabai membutuhkan perhatian khusus agar inflasi terjaga.

Jika program sinergis itu efektif, inflasi harga pangan diperkirakan bisa dijinakkan dalam enam bulan. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya