Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Perkembangan Stimulus Fiskal AS Bakal Pengaruhi Bursa Saham 

Fetry Wuryasti
01/2/2021 02:30
Perkembangan Stimulus Fiskal AS Bakal Pengaruhi Bursa Saham 
Warga mengambil gambar pergerakan harga saham(Antara/Reno Esnir)

DIREKTUR PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan awal Februari 2021 antara lain pelaku pasar awalnya berharap awal Februari 2021 stimulus fiskal AS yang diusulkan Presiden Joe Biden sudah dapat disetujui.

Tetapi saat ini Presiden Joe Biden mengatakan terbuka untuk menyusun ulang proposal bantuan Covid-19 senilai USD1,9 triliun karena pemerintah mengejar kesepakatan bipartisan.

Memang ada peluang menempuh jalur khusus dengan pengambilan suara dan mengandalkan suara Partai Demokrat.

Politisi dari Partai Republik dari awal telah menolak jumlah stimulus fiskal usulan Biden karena menilainya terlalu besar dan terlalu cepat setelah paket senilai USD900 miliar bulan lalu.

Dikabarkan beberapa anggota parlemen Partai Demokrat ikut mempertanyakan dasar dari besaran yang diajukan. Hal ini membuat potensi tertundanya paket stimulus fiskal Biden empat sampai enam pekan ke depan.

"Ini menjadi salah satu sentimen negatif di pasar. Perkembangan stimulus fiskal akan sangat dicermati pelaku pasar," kata Hans, Minggu (31/1).

Persaingan investor ritel vs hedge fund menjadi hiruk pikuk di pasar Wall Street seminggu terakhir. Investor ritel yang terorganisir melalui forum online Reddit, telah memaksa hedge fund membalikkan posisi short dan menderita kerugian.

Hedge fund yang menderita kerugian terpaksa mengurangi kepemilikan ekuitasnya untuk mengumpulkan dana tunai. Inilah yang membuat tekanan jual pada bursa Wall Street.

Beberapa saham seperti GameStop dan AMC Entertainment telah naik tajam dalam waktu pendek dan menjauhi nilai fundamentalnya.

Saham ini dianggap naik tidak masuk akal akibat aksi beli investor ritel. Panasnya persaingan investor ritel dan hedge fund berpotensi menyebabkan pasar saham AS menjadi lebih berfluktuasi dan cenderung tertekan turun.

Baca juga : Sepekan Terakhir Januari, IHSG Terkoreksi Hingga 7 Persen

Kemudian, sentimen lainnya, perekonomian tahun 2020, dipengaruhi pandemi Covid-19 yang menghancurkan bisnis jasa, seperti restoran dan maskapai penerbangan di Amerika. Pandemi juga membuat jutaan orang Amerika kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin.

Solusi yang diberikan IMF adalah mendorong negara maju untuk memiliki tingkat utang publik yang jauh lebih tinggi setelah krisis pandemi Covid 19. Kepastian kebijakan fiskal AS menjadi sangat penting bagai perekonomian dan pasar saham.

Hasil rapat Komite Pengambil Kebijakan The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 0-0,25%.

The Fed berkomitmen tetap menjalankan program pembelian obligasi (quantitative easing) sampai ekonomi dan pasar tenaga kerja betul-betul pulih dari dampak pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

Saat ini The Fed membeli obligasi pemerintah AS sebanyak USD80 miliar per bulan dan aset beragun kredit properti (mortgage-based securities) USD40 miliar.

The Fed tidak memberikan indikasi akan dilakukan tapering atau pengurangan quantitative easing. The Fed memberikan komentar outlook ekonomi yang suram karena perlambatan pemulihan ekonomi.

Pemulihan ekonomi sangat tergantung pada peluncuran vaksin, tetapi saat ini pelaksanaan vaksin Covid-19 terlihat lambat di berbagai negara. Hal ini yang menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan.

Masalah vaksin juga menjadi sentimen negatif bagi pelaku pasar. Terlihat ada masalah pasokan vaksin di Uni Eropa. Otoritas pengawasan obat Eropa telah menyetujui vaksin hasil kerja sama AstraZeneca dan Oxford University's untuk penduduk berusia 18 tahun.

Ini merupakan vaksin ketiga yang akan diizinkan untuk digunakan di Eropa selain Pfizer dan Moderna. Saat ini Eropa sangat membutuhkan lebih banyak vaksin untuk mempercepat program vaksinasinya.

Tetapi AstraZeneca, Pfizer, dan Moderna menghadapi kesulitan mengirimkan vaksin ke Uni Eropa. Masalah pasokan dan distribusi vaksin Covid-19 mungkin akan terjadi di banyak negara.

Masalah ini membuat vaksin mungkin tidak akan efektif dalam dua sampai tiga bulan kedepan. Hal ini memaksa banyak negara melakukan lockdown ketat untuk mencegah penularan virus covid 19 yang berpotensi merusak pemulihan ekonomi yang sedang terjadi.

Vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson efektif 72% dalam mencegah COVID-19 di Amerika Serikat. Tetapi hanya 66% efektif dalam uji klinis global yang dilakukan di tiga benua dan terhadap berbagai varian baru Covid-19.

Hasil ini mengecewakan dan membuat pasar Wall Street tertekan turun. Ada banyak harapan untuk vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson untuk menghadapi pandemi Covid-19. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya