Kamis 14 Januari 2021, 15:10 WIB

Komit Berdayakan 50 juta UKM secara Digital

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Komit Berdayakan 50 juta UKM secara Digital

Dok.Visa
Ilustrasi

 

PANDEMI covid–19 melanda banyak negara di dunia, termasuk Indonesia bukan saja telah melumpuhkan berbagai sektor kehidupan, melainkan melahirkan pula sejumlah kebiasaan baru. Salah satu adalah dalam hal perdagangan atau jual-beli.

Seiring peran teknologi pembayaran digital yang pesat di seluruh dunia, pergeseran perilaku konsumen terlihat semakin permanen memasuki 2021. Dalam edisi ketiga studi global bertajuk 'Visa Back to Business Study - 2021 Outlook', Visa menemukan bahwa transformasi usaha kecil dan mikro (UKM) ke arah perdagangan digital terus berlanjut. Sejumlah area semakin menjadi perhatian seperti keamanan, pencegahan penipuan, dan fitur pembayaran yang makin umum seperti 'buy now, pay later’ serta penerimaan pembayaran mobile.

Baca juga: Pemerintah Targetkan 50% UMKM Go Digital pada 2024

Berdasarkan studi tersebut, pada akhir 2020, 82% UKM yang disurvei mengungkapkan bahwa mereka mulai mengadopsi teknologi digital untuk mengikuti perubahan perilaku konsumen. Menyambut 2021, para pelaku UKM ini semakin mempertimbangkan sejumlah teknologi pembayaran yang dinilai vital dalam memenuhi ekspektasi konsumen saat ini, di antaranya software manajemen keamanan dan penipuan (47%), penerimaan pembayaran nirsentuh/contactless atau mobile (44%), pemrosesan pembayaran melalui perangkat mobile (41%), fitur pembayaran cicilan atau ‘buy now, pay later’ (36%), dan teknologi backend pembayaran digital (31%).

“Berkaca dari tahun lalu, kami melihat bahwa pengalaman pembayaran digital, seperti contactless dan eCommerce, paling diminati akibat dorongan kebutuhan masyarakat dan telah menjadi kebiasaan sehari-hari,” ungkap Kevin Phalen, global head of business solutions, Visa dalam siaran persnya, Kamis (14/1).

“Jika pada 2020 merupakan era pembayaran contactless dan eCommerce, hasil studi ini memberitahu kita bahwa tahun ini akan semakin menegaskan isu keamanan dan pencegahan penipuan, serta uji coba lebih banyak lagi perangkat perdagangan digital baru yang dapat membantu bisnis bertumbuh,” imbuhnya.

Semua negara yang disurvei telah mengadopsi teknologi pembayaran baru, kata dia, secara cepat dan perubahan perilaku konsumen terkait perdagangan. Temuan tambahan dari studi di Brasil, Kanada, Jerman, Hong Kong, Irlandia, Rusia, Singapura, Uni Emirat Arab (UEA), dan Amerika Serikat, menyoroti besarnya dampak dari  2020 dan ekspektasi untuk 2021.

Dia menyebut sejumlah hal yang akan terjadi pada UKM tahun ini. Pertama, pembayaran contactless akan semakin digunakan.  "Penggunaan pembayaran contactless mengalami peningkatan secara global pada 2020 seiring konsumen mencari cara membayar yang lebih aman di tengah pandemi. Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut pada tahun baru. Hampir tiga dari empat (74%) UKM berharap konsumen akan terus memilih pembayaran contactless bahkan setelah vaksin covid-19 tersedia."

Kedua, pelaku UKM secara berkelanjutan menerapkan cara baru agar mampu melayani konsumen di mana mereka berada. Secara global, 82% pemilik UKM telah memperbarui cara berbisnis mereka untuk memenuhi permintaan pembayaran digital yang terus meningkat. Jumlah ini meningkat dari 67% pada pertengahan tahun 2020 saat Visa Back to Business Study pertama dirilis.

Ketiga, pelaku usaha yang paham teknologi (52%) memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk berinvestasi di teknologi keamanan dan pencegahan penipuan dibandingkan dengan pelaku usaha baru (39%).

Sementara itu, dari sisi konsumsen, kata dia, pada 2021 konsumen menempatkan protokol kesehatan selama pandemi covid-19 sebagai prioritas saat berbelanja, yang memicu peralihan pesat ke perdagangan yang minim kontak fisik. Kemudian konsumen juga sebanyak 47% konsumen mengatakan mereka tidak akan berbelanja di toko yang tidak menawarkan pembayaran contactless.

Lebih lanjut, guna beradaptasi menghadapi era baru yang serba digital, hampir semua pelaku UKM di Uni Emirat Arab (97%) dan Hong Kong (96%) telah menyesuaikan cara mereka berbisnis dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, dibandingkan dengan rata-rata pelaku UKM secara global sebesar 82%. Pada bulan Juni 2020, hanya dua dari lima UKM di Hong Kong (40%) yang menjual produk dan layanan secara online. Saat ini, hampir tiga dari lima (57%) menjual lebih banyak secara online, dibandingkan dengan rata-rata pelaku UKM secara global sebesar 44%.

Konsumen berbelanja secara digital dan lebih memerhatikan keamanan dan keselamatan: Secara global, 82% konsumen telah mengambil sejumlah tindakan tambahan untuk melindungi diri dari penipuan, dengan jumlah konsumen terbesar di UEA sebesar 90%. Hampir semua konsumen UEA (96%, dibandingkan dengan 61% secara global) juga telah menempuh langkah untuk menjaga higiene kartu kredit mereka, menjadikannya yang paling mengutamakan keselamatan dibandingkan dengan negara lainnya yang disurvei.

Sebagai pendukung jalannya perdagangan yang terpercaya, Visa akan terus memperkenalkan program dan sumber daya baru untuk meningkatkan komitmennya memberdayakan 50 juta UKM secara digital. Setelah Visa Street Teams mengunjungi lebih dari 300.000 usaha kecil di 12 negara untuk menyediakan modul 'back to business' pada 2020, versi virtual dari program bertajuk The Virtual Breakroom: Back to Business Learning Series ini kini tersedia secara online untuk membekali setiap UKM dengan tutorial pembayaran contactless, pengembangan bisnis online, dan manajemen pemasaran digital/reputasi bagi pelaku usaha kecil. (RO/A-1)

 

Baca Juga

DOK Seraya Perkasa Mututama

Seraya Gears Pabrik Roda Gigi Pertama di Indonesia

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 27 Januari 2021, 00:16 WIB
Pabrik roda gigi yang terletak di Cikarang Pusat, Indonesia, itu memiliki mesin dengan kapasitas sampai dengan diameter 5,5 meter,...
MI.Ramdani

INA dan UU Cipta Kerja Menjadi Penggerak Investasi 2021  

👤Fetry Wuryasti 🕔Selasa 26 Januari 2021, 23:26 WIB
" Dua komponen ini jadi penggerak investasi yang menurut saya cukup menarik di 2021 dan selanjutnya," kata Ketua Umum Asosiasi...
Antara

Anggaran Kemeparekraf Dipotong Rp342 Miliar untuk Vaksinasi

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 26 Januari 2021, 23:25 WIB
"Program pendidikan dan pelatihan avokasi tidak terkena lakukan penghematan tetap menjadi Rp994 miliar," kata Mantan Wakil...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya