Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKRETARIS Kementerian Koperasi dan UKM Rully Indrawan menargetkan sebanyak 50% usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sudah terdigitalisasi pada 2024.
Target tersebut pun telah dimasukkan ke Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024
UMKM yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi di Indonesia, saat ini sebagian besar masih dijalankan secara konvensional.
Maka dari itu, diperlukan kerja keras guna mengangkat sektor UMKM menjadi lebih berdaya saing dengan mengikuti perkembangan zaman yang ada.
"Ini bukan hanya bagi pemerintah melainkan juga pihak lain seperti institusi-institusi terkait termasuk para akademisi. Kita semua harus hadir, memberikan edukasi terkait pengunaan teknologi sehingga mereka bisa semakin berdaya," ujar Rully melalui keterangan resminya, Jumat (12/4).
Baca juga: Nilai Ekonomi Digital RI Ditargetkan 100 Miliar Dolar Pada 2025
Adapun, Chairman International Council for Small Business (ICSB) Indonesia Hermawan Kartajaya mengatakan, sebelum membawa para pelaku UMKM dari offline bergerak ke online, pemerintah harus bisa mengintegrasikan dua sistem usaha tersebut.
"Jadi tidak bisa online saja atau offline saja. Keduanya harus seimbang. Produk bisa hadir di pasar secara offline dan di online juga ada. Artinya dua sistem ini harus diintegrasi. Pemerintah bersama seluruh pihak harus bisa membangun infrastruktur untuk hal itu," jelasnya.
Saat ini, sedianya sudah tersedia platform seperti marketplace yang merupakan akses pasar bagi produk-produk UMKM. Sayangnya, porsi untuk produk-produk dalam negeri masih belum cukup besar.
Pengamat ekonomi digital Yudi Candra mengungkapkan, hingga akhir 2018, jumlah usaha mikro di Indonesia mencapai 58,91 juta unit dan usaha kecil sebesar 59.260. Adapun jumlah usaha menengah mencapai 4.987 unit.
Dari jumlah tersebut, baru 5% yang sudah go digital. Sisanya masih sangat konvensional dalam pengembangan usaha mereka. (OL-7)
Pelaku usaha kini bisa daftar QRIS, terima pembayaran semua bank dan e-wallet, serta pencairan dana tiap jam.
Di tengah ekspansi ekonomi digital yang kian cepat, industri financial technology (fintech) Indonesia memasuki fase baru: dari mengejar pertumbuhan.
Meski potensi ekonomi digital besar, Indonesia masih menghadapi tantangan serius pada aspek literasi.
Peran AI sebagai intelligent trust, bukan pengganti tanggung jawab manusia, melainkan alat untuk memperkuat transparansi, keadilan distribusi, dan pengambilan keputusan beretika.
Bank Indonesia melakukan reformasi pengaturan industri sistem pembayaran, salah satunya Transaksi, Interkoneksi, Kompetensi, Manajemen Risiko, dan Infrastruktur Teknologi Informasi.
Shopee 10 tahun dorong UMKM, brand lokal, dan kreator tumbuh digital
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved