Selasa 05 Januari 2021, 02:45 WIB

Lonjakan Harga Kedelai tidak Signifikan Memengaruhi Inflasi

M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Lonjakan Harga Kedelai tidak Signifikan Memengaruhi Inflasi

MI/Gabriel Langga
Para pekerja di Sikka sedang membuat tempe dan tahu.

 

MESKI di pasaran global sejak tiga bulan lalu melonjak dari Rp6.000-Rp7.000 menjadi Rp9.300 per kilogram, harga kedelai tidak banyak memengaruhi tren inflasi pada Desember 2020.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat naiknya harga bahan baku tahu dan tempe tersebut hanya menyumbang infl asi di kisaran 0,05%- 0,06%.

“Tahu mentah mengalami infl asi 0,06% dan tempe mengalami infl asi 0,05%. Dua komoditas olahan kedelai itu tidak signifi kan memberi sumbangan terhadap inflasi. Andilnya kecil terhadap infl asi nasional,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam jumpa pers secara virtual di Jakarta, kemarin.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memastikan pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri. Hal itu karena kebutuhan kedelai setiap tahun lebih didominasi impor.

Kementerian Perdagangan mencatat kenaikan harga kedelai disebabkan kenaikan permintaan dari Tiongkok, negara importir kedelai terbesar dunia. Adapun Indonesia menjadi negara importir kedelai kedua terbesar setelah Tiongkok.

Sahabat Perajin Tempe Pekalongan (SPTP) mengaku merugi akibat lonjakan harga kedelai impor. “Kelangkaan tempe tahu disebabkan karena harga bahan baku naik lebih dari 35%. Jadi, pengrajin merugi,” ujar Ketua SPTP Mua’limin, Minggu (3/1).

Sementara itu, berdasarkan kelompok pengeluaran, andil terbesar terhadap infl asi Desember 2020 adalah produk makanan minuman dan tembakau sebesar 0,38% dengan inflasi mencapai 1,49%.

Kemudian transportasi memberi andil 0,06% dengan infl asi Desember 2020 mencapai 0,46% dan penyediaan makanan dan minuman/restoran memberi andil 0,02% dengan inflasi pada Desember 2020 mencapai 0,27%.

Secara bulanan, BPS mencatat infl asi pada Desember 2020 mencapai 0,45% atau meningkat dibandingkan November 2020 sebesar 0,28%. Inflasi Desember 2020 sebesar 0,45% banyak dipengaruhi lonjakan harga cabai merah, beras, dan tarif angkutan udara.

Di bagian lain penjelasannya, Setianto memaparkan tingkat inflasi selama 2020 yang berada di level 1,68%. “Meskipun menurun dalam beberapa bulan terakhir, inflasi inti masih perlu dilengkapi data dengan melihat tingkat konsumsi rumah tangga dan permintaan pasar. Kami berharap daya beli akan terus membaik.” (Mir/X-3)

Baca Juga

Dok. Kementerian ATR/BPN

Kementerian ATR/BPN Gelar Sosialiasi PP Turunan UU Cipta Kerja Bidang Pengendalian Fungsi Tanah dan Ruang 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 00:11 WIB
Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang (Ditjen PPTR) membawahi beberapa PP, yaitu PP Nomor 18 Tahun 2021 tentang...
Dok. Kemendag

UKM Binaan ECP Kemendag Sukses Perluas Pasar Ekspor Furniture ke UEA 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:52 WIB
CV Mebel Internasional merupakan peserta ECP untuk wilayah Jawa Tengah yang berhasil mendapatkan permintaan dari UEA dengan memanfaatkan...
Dok. Diamondland

Ikut Bantu Pencapaian Herd Immunity dan Pemulihan Ekonomi, Diamonland Gelar Vaksinasi Massal 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:06 WIB
Kegiatan itu merupakan bentuk tanggung jawab sosial dalam menyukseskan pencapaian herd immunity melalui vaksinasi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya