Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
Kepanikan yang melanda investor di Bursa Efek indonesia (BEI) akibat peningkatan kasus penyebaran covid-19 pada perdagangan Senin (30/11) tidak berlanjut.
Investor cukup yakin bahwa pemerintah tidak akan mengambil tindakan drastis berupa penguncian wilayah (lockdown) atau penghentian aktivitas bisnis dan ekonomi secara total.
Ditambah adanya sentimen positif dari tingkat inflasi yang kembali meningkat dan naiknya Purchasing Managers Index manufaktur, investor cukup nyaman untuk melakukan pembelian kembali saham-saham di BEI.
IHSG ditutup menguat 112,33 poin atau 2% ke posisi 5.724,74.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 21,77 poin atau 2,47% ke posisi 904,83.
Analis Indo Premier Sekuritas Mino mengatakan sentimen positif bagi IHSG ada yang bersifat teknis dan nonteknis.
“Sentimen teknis ialah selesainya penyesuaian Indeks MSCI dan indeks syariah, sedangkan nonteknis, yaitu data inflasi yang kembali naik 0,28 mom, 1,59 yoy, dan data manufaktur 50,6 (ekspansif), di-submit-nya calon vaksin Moderna menyusul Pfizer, dan dicalonkanya Janet Yellen menjadi Menkeu AS,” ujar Mino.
Dengan dibuka menguat, IHSG relatif nyaman menghabiskan waktu di teritori positif hingga penutupan perdagangan saham. Namun, sekitar pukul 11.00 WIB IHSG sempat terkoreksi. “Tadi pasar sempat negatif karena pengumuman Anies yang terkonfirmasi covid-19,” kata Mino.
Investor asing masih melakukan penjualan terhadap saham-saham yang dimilikinya. Namun, besarannya sudah jauh berkurang dari Rp3,2 triliun pada perdagangan Senin (30/11) menjadi sekitar Rp828 miliar pada perdagangan kemarin.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah masih melepas tipis akibat kekhawatiran penyebab covid-19. Rupiah ditutup melemah 10 poin atau 0,07% ke posisi Rp14.130 per US$1 jika dibandingkan dengan hari sebelumnya Rp14.120 per US$1.
Volatilitas mereda
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan sejak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengumumkan kasus Covid-19 pertama di Indonesia pada Maret tahun ini, Bursa Efek Indonesia telah melakukan beberapa kebijakan untuk mengatasi tingginya volatilitas perdagangan.
Volatilitas IHSG yang mencapai 11% terjadi pada Maret 2020 saat awal pengumuman pandemi di Indonesia.
Setelah adanya berbagai kebijakan khusus, volatilitas mulai mereda dan hanya dua kali lonjakan kecil, yaitu pada Agustus ketika rilis laporan kinerja emiten kuartal II, serta jelang rilis pertumbuhan nasional kuartal II, kemudian pada September pascapengumuman PSBB.
“Sampai Oktober, volatilitas indeks sudah cukup normal,” kata Inarno.
Titik terendah IHSG tahun ini terjadi pada Selasa (24/3) dengan penurunan sebesar -37,49% jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu. Penurunan IHSG sepanjang tahun 2020 (ytd) tercatat sebesar -8,19%. “Kami harapkan akhir tahun akan lebih baik,” kata Inarno.
Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) di bulan November 2020 mengalami peningkatan menjadi Rp12,9 triliun per hari.
Peningkatan juga terlihat pada jumlah pencatatan efek baru yang masih bertumbuh di tengah pandemi covid-19. Sampai dengan 30 November 2020, sudah tercatat 46 perusahaan melakukan initial public offering (IPO) sehingga total ada 708 perusahaan tercatat di BEI. “Total penggalangan dana (fund raise) sebesar Rp 108,71 trillun. Tidak hanya itu, masih terdapat 20 perusahaan yang masuk ke dalam pipeline,” tandasnya. (Ant/E-1)
Diskoneksi antara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus berlanjut.
Ini rahasia pensiun Warren Buffett: investasi jangka panjang, hidup sederhana, dan strategi keuangan aman di usia tua.
Saham RAJA dan RATU sama-sama milik Happy Hapsoro, tapi punya bisnis dan risiko berbeda. Simak perbedaan RAJA vs RATU sebelum investasi.
Aplikasi ini diunduh oleh dua juta investor di sepanjang tahun ini, naik 37% dibandingkan tahun 2024
Dalam dunia investasi saham, strategi bisa berubah, tren bisa datang dan pergi. Namun, ada satu pendekatan yang tetap relevan lintas generasi, cara berinvestasi ala Warren Buffett.
Para pelaku penipuan biasanya menjerat calon korban dengan menawarkan kesempatan cuan cepat, undangan ke grup eksklusif, hingga jasa pendampingan trading.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved