Selasa 03 November 2020, 15:30 WIB

Terdampak Penurunan Harga Batu Bara, Adaro Tetap Optimistis

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Terdampak Penurunan Harga Batu Bara, Adaro Tetap Optimistis

Antara/HO/pras
Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir (kanan)

 

PT Adaro Energy (ADRO) Tbk membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$109,39 juta atau Rp 1,6 triliun (kurs Rp 14.700) pada triwulan III tahun ini.  Jumlah  itu  merosot jauh (-73%) dari laba US$405,99 juta atau setara Rp 5,9 triliun pada September 2019.

Penurunan laba  terjadi karena menurunnya pendapatan usaha menjadi US$1,95 miliar (Rp 28,66 triliun), terkoreksi -25% dari periode sama sebelumnya yang sebesar US$2,6 miliar (Rp 38,22 triliun.

Hal ini didorong oleh penurunan Average Selling Price (ASP) dan volume penjualan, yang masing-masing turun 18% dan 9%. Pasar batu bara belum kondusif karena permintaan batu bara global masih lemah.

Walaupun pasar batu bara termal seaborne turun secara y-o-y, berkat disiplin terhadap suplai, mulai terlihat tanda-tanda rebalancing pada kuartal III-2020. Pada periode ini, produksi dan penjualan batu bara masing-masing mencapai 41,10 juta ton dan 40,76 juta ton, setara dengan penurunan 7% dan 9% y-o-y.

Beban pokok pendapatan perusahaan juga turun 24% menjadi US$1,4 miliar (Rp 20,5 triliun), dari September 2019 yang sebesar US$1,85 miliar (Rp 27,19 triliun).

Hal ini terutama karena penurunan pada nisbah kupas serta pembayaran royalti kepada pemerintah pada kuartal III-2020. Biaya kas batu bara per ton (tidak termasuk royalti) turun 17% y-o-y akibat penurunan nisbah kupas maupun harga bahan bakar.

Pada kuartal, biaya bahan bakar turun 28%, karena harga bahan bakar turun secara y-o-y dan konsumsi bahan bakar turun 18% seiring menurunnya produksi dan nisbah kupas.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer ADRO , Garibaldi Thohir mengatakan jatuhnya laba, sebagai akibat penurunan permintaan karena melambatnya pertumbuhan ekonomi dan minat beli yang lemah di negara-negara pengimpor utama. 

Di masa yang sulit ini, perusahaan terus berfokus terhadap operasi dan efisiensi biaya, serta mengimplementasikan strategi untuk memperkuat bisnis inti.

"Kami juga mengambil sikap waspada terhadap pengeluaran dan mengeksekusi rencana belanja modal dengan hati-hati. Meskipun disiplin terhadap suplai telah mulai dilakukan, kami perkirakan bahwa pemulihan pasar akan membutuhkan waktu yang lebih lama," kata Garibaldi melalui rilis yang diterima, Selasa (3/11).

Meskipun dibayangi oleh tantangan ekonomi makro, perusahan masih dapat mempertahankan operasi. Kondisi pasar batu bara yang sulit akibat ekonomi global yang masih belum kondusif karena pandemi yang berkepanjangan terus menekan profitabilitas perusahaan.

Meskipun ketidakpastian masih ada, model bisnis perusahaan yang terintegrasi memungkinkan untuk beroperasi dengan efisien dalam menghadapi tantangan ini. Di sisi yang positif, perusahaan mulai melihat beberapa tanda rebalancing di pasar batu bara berkat disiplin terhadap suplai.

"Kami tetap optimistis terhadap fundamental industri di jangka panjang, dan dalam menghadapi tantangan jangka pendek, kami berfokus untuk menjaga kas, memperkuat struktur permodalan dan posisi keuangan, bertahan di jalur yang sudah ada, terus mengeksekusi strategi untuk memastikan kelangsungan bisnis, dan tetap bersumbangsih terhadap pembangunan nasional," tutup Garibaldi. (E-1)

Baca Juga

Antara/Dhemas Reviyanto

BI Beli SBN Pemerintah Rp473,2 Triliun pada 2020

👤Despian Nurhidayat 🕔Jumat 22 Januari 2021, 06:30 WIB
Pendanaan dan pembagian beban dalam APBN itu bertujuan memulihkan ekonomi nasional yang terdampak badai pandemi...
Antara/Zabur Karuru

PUPR Targetkan Pengalihan BPWS Lebih Awal

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 22 Januari 2021, 05:10 WIB
Keputusan itu mengacu Perpres 112/2020 terkait pembubaran lembaga nonstruktural. Nantinya, ada pengalihan aset milik BPWS senilai Rp1,2...
Antara/Septianda Perdana

BRI: Menumbuhkan Kredit Jadi Tantangan 2021

👤Fetry Wuryasti 🕔Jumat 22 Januari 2021, 01:10 WIB
Pada 2020 lalu, pertumbuhan kredit di Bank BRI minus 2,42% akibat nasabah perorangan hingga korporasi terdampak pandemi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya