Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
PENELITI ekonomi senior dari Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan Republik Indonesia Eric Alexander Sugandi memperkirakan perekomian Indonesia akan mengalami inflasi sebesar 0,05% month on month (mom) atau 1,4% tahunan (year on year /yoy) pada Oktober.
"Indikatornya yaitu berangsurnya peningkatan permintaan masyarakat seiring dengan pembukaan sektor-sektor perekonomian dan transfer dana stimulus oleh pemerintah kepada rumah-rumah tangga," ujar Eric, Minggu malam (25/10).
Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan inflasi akan berada di bawah angka 2% di akhir 2020 karena masih lemahnya permintaan masyarakat akibat wabah covid-19.
Proyeksi BI untuk angka inflasi akhir tahun ini lebih rendah daripada rentang target inflasi BI yakni di 2%-4%. Menurut Gubernur BI, faktor lain yang ikut berperan pada rendahnya inflasi per akhir tahun ini adalah terjaganya ekspektasi inflasi para pelaku ekonomi, stabilitas nilai tukar rupiah, ketersediaan pasokan panen di sejumlah sentra produksi, serta harga komoditas pangan yang rendah.
BI memperkirakan laju inflasi akan naik pada 2021 ke dalam rentang target inflasi BI di 2% - 4%, seiring dengan pemulihan ekonomi Indonesia.
"Dengan memperhatikan masih lemahnya tekanan inflasi dari sisi permintaan, meningkatnya pasokan barang dan jasa secara bertahap karena pembukaan sektor-sektor perekonomian, serta angka inflasi year to date yang rendah (0,89%), Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan RI merevisi proyeksi angka inflasi menjadi 1,2% yoy di akhir tahun 2020 (dari proyeksi sebelumnya di 2,5% yoy) dan 3,5% di akhir tahun 2021 (dari 4,5% yoy)," kata Eric.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau naik dari level 5.103 pada penutupan perdagangan 16 Oktober 2020 ke 5.112 pada penutupan perdagangan 23 Oktober 2020.
Pada periode yang sama, nilai tukar rupiah (berdasarkan JISDOR Bank Indonesia) menguat dari Rp14.766 per dolar AS ke Rp14.738 per dolar AS.(E-3)
DINAMIKA inflasi pada awal 2026 perlu dilihat secara seimbang dari sisi permintaan (demand) dan penawaran (supply).
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2026 sebesar 3,55%.
Meski sempat dipengaruhi cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi, fluktuasi harga di pasar tradisional dinilai masih wajar dan tidak menimbulkan gejolak signifikan menjelang ramadan.
Beberapa komoditas tercatat mengalami kenaikan harga, yakni cabai merah, kacang tanah, seledri, dan ikan kembung. Kenaikan tertinggi terjadi pada cabai merah sebesar 7,36%.
Harga bahan pokok di Pasar Induk Kramat Jati dan wilayah Jakarta awal Februari 2026 mengalami lonjakan signifikan, terutama pada komoditas cabai dan bawang merah menjelang bulan suci Ramadan.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional per 6 Januari 2026, komoditas seperti beras, daging ayam, telur ayam, gula, dan daging sapi masih mencukupi untuk tiga bulan ke depan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved