Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif CORE (Center of Reform on Economics) Indonesia Mohammad Faisal memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 akan kembali terkontraksi atau berada pada angka minus 2% yang artinya Indonesia akan masuk resesi ekonomi.
Secara teknikal, Faisal menambahkan bahwa jika perkiraannya terjadi maka Indonesia telah masuk kedalam kondisi resesi. Namun, menurutnya kondisi ini membaik bila dilihat dari sisi trennya.
"Ini jangan dilihat secara teknis tapi lihat secara trennya. Yang perlu dipahami itu, meskipun minus tapi ternyata trennya membaik dibanding kuartal II-2020, ini masih bagus. Ke depan yang perlu difokuskan ialah bagaimana resesi nggak terlalu dalam dan kita harapkan sustainable sampai kuartal IV-2020," ungkapnya dalam webinar secara daring, Selasa (25/8).
Lebih lanjut, menurut Faisal dari pandangan ekonomi, resesi itu merupakan bagian dari siklus. Di mana pertumbuhan ekonomi itu selalu mengalami fluktiasi atau naik turun.
Baca juga: Indef : Pertumbuhan Ekonomi di Akhir 2020 Minus 0,53% - 0,14%
Ketika pertumbuhan ekonomi dikatakan menanjak, hal tersebut bisa diistilahkan sebagai recovery. Ketika berada di atas, dinamakan booming dan ketika turun dari segi nominal, hal itu dinamakan resesi.
"Kalau dilihat dari kuartal II dan III di negara lain juga sama. Sedikit negara yang bisa menghindari kontraksi karena penanganan wabah sejak awal. Seperti Tiongkok dan Vietnam sangat serius dari awal pandemi. Kita sudah lewat masanya dan pandemi sudah ada di depan. Jadi sekarang tinggal bagaimana stimulus dari pemerintah yang sudah ada dalam program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) atau belum ada di program PEN itu bisa diimplementasikan secara cepat," sambungnya.
Secara keseluruhan, Faisal menambahkan bahwa berdasarkan prediksi dari CORE Indoneska, pada tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menyentuh angka minus 1,5 sampai 3%.
Faisal menambahkan, saat ini pemerintah harus memntingkan masyarakat bawah yang sangat terdampak. Hal ini dikarenakan masyarakat bawah tidak bisa menunggu lama dan banyak yang bergantung upah harian dan juga BLT (Batuan Langsung Tunai).
Selain itu penurunan daya beli dari kalangan bawah juga harus ditindaklanjuti. Hal ini dikarenakan Bansos (Bantuan Sosial) yang sangat dibutuhkan tapi memiliki realisasi yang lambat.
"Ada juga permasalahan UMKM. Mereka ini jadi ujung tombak kita karena 99% pelaku usaha itu ada di sektor UMKM. PEN itu sekitar Rp124 triliun untuk UMN, tapi skemanya masih pembiayaan dan permodalan di sistem perbankan. Padahal 98% UMKM itu ada di sektor usaha mikro. Hanya 1% saja di sektor usaha kecil dan menengah, di mana mereka merupakan sektor yang bankable dan bisa menikmati stimulus sistem perbankan," kata Faisal.
"Sisanya sebanyak 98% ini nggak bisa dipaksa dan untuk merambah usaha mikro dan ultra mikro yang tidak bankable, kalau dipaksa akan menambah risiko di perbankan. Sekarang perbankan masih sehat walaupun ada penurunan kinerja. Kalau dipaksa meningkatkan risiko kredit, penurunan akan menular ke sektor perbankan," lanjutnya.
Faisal mengusulkan bahwa stimulus untuk UMKM harus diperbaiki, di mana paling besar penerima manfaat harus dari sektor usaha mikro. Penyalurannya pun tidak perlu melalui perbankan, karena bisa dilakukan dengan skema Bansos.
"Ke depan, yang paling penting itu adalah bagaimana cara kita bangun pondasi ekonomi yang kuat. Karena nantinya ini bukan hanya untuk menghadapi krisis tapi juga ke depan termasuk menghadapi climate change dan permasalahan lainnya," pungkas Faisal. (OL-4)
Oleh sebab itu, dia meminta masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi pelebaran defisit APBN.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat saat Lebaran tahun ini lebih bersifat selektif.
Hal itu karena asumsi nilai tukar dalam APBN berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS, sementara saat ini rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS.
Sebagaimana diketahui, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi diketahui masih cukup tinggi.
Senator asal Bengkulu ini menyoroti angka inflasi tahunan per Februari 2026 yang menyentuh 4,76 persen sebagai sinyal waspada bagi ketahanan ekonomi.
Prabowo menyebut Danantara menunjukkan kinerja yang sangat kuat dalam satu tahun terakhir dengan capaian return on assets (ROA) lebih dari 300%.
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tetap tenang dalam menyikapi isu potensi resesi ekonomi.
Angka tersebut merupakan salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan menandakan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi
CHIEF Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai risiko Indonesia mengalami resesi dalam waktu dekat amat kecil karena ditopang oleh kekuatan domestik.
KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufiqurrahman menilai pemerintah gagal mengoptimalkan ruang fiskal di tengah perlambatan ekonomi dan meningkatkan risiko resesi.
Indonesia dihantui resesi karena pertumbuhan ekonomi yang mengkhawatirkan. Pada triwulan pertama 2025, pertumbuhan ekonomi nasional hanya 4,87%, terendah sejak triwulan ketiga 2021.
Pengamat meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah antisipatif untuk mencegah resesi, mengingat perkembangan secara triwulanan (q to q) juga tercatat minus 0,98%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved