Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Adaptasi Hadapi New Normal

Gana Buana
15/6/2020 02:55
Adaptasi Hadapi New Normal
(Dok Istimewa)

PERUSAHAAN rintisan atau startup di Tanah Air harus beradaptasi dengan perubahan akibat pandemi covid-19 agar mampu bertahan terutama ketika memasuki era kenormalan baru (new normal).

Presiden Komisaris SEA Group Pandu Sjahrir menjelaskan adaptasi dalam hal ini perlu mempelajari struktur organisasi perusahaan jika ada sisi yang terdampak. Perusahaan perlu meninjau dampak covid-19 dalam aspek sumber daya manusia (SDM), modal, alokasi dana, dan
sebagainya.

Dia mencontohkan sebuah startup bakal memfokuskan bisnisnya pada jenis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tertentu. Namun, perusahaan juga perlu meninjau lebih lanjut kesiapan perubahan SDM, teknologi, ataupun platform yang bakal digunakan nantinya.

Setelah startup mengetahui arah bisnis, mereka lalu mencari tahu siapa investor yang tepat serta pendanaan yang dibutuhkan untuk menjalankan perubahan tersebut. “Perusahaan startup juga harus berdiskusi dengan pakar, kompetitor, dan stakeholders untuk mendapatkan pandangan terkait imbas pandemi covid-19,” kata Pandu.

Dia menyebutkan setidaknya ada tujuh sektor startup atau layanan yang moncer saat pandemi. Pertama, layanan e-grocery dan e-commerce, seperti Happy Fresh, Shopee, dan Bukalapak, yang naik 61% sejak Januari hingga Maret dengan rata-rata ukuran keranjang meningkat 20%.

Adapun, layanan e-commerce secara keseluruhan meningkat dalam penjualan hand sanitizer dan produk kebersihan hingga 500%. Kedua, layanan pesan antar makanan juga mengalami kenaikan hingga 15% setiap bulan serta layanan logistik naik ratarata hingga 30%. Ketiga, layanan jarak jauh seperti Slack naik 80% dan Tik Tok 40% pada kuartal pertama 2020, dan Zoom naik 30 kali lipat sejak Desember 2019.

Keempat, layanan streaming dan media, seperti Go-Play dan Vidio. Kelima, layanan e-learning seperti Ruangguru. Keenam, layanan telemedicine atau healthtech, seperti Alodokter dan Halodoc.

Terakhir, yakni layanan home fitness seperti R Fitness juga mengalami kenaikan. “Secara garis besar terjadi perubahan fundamental pada masyarakat dari offline ke online karena mereka harus tinggal di rumah selama pandemi covid-19 ini,” ucap Pandu.


Efisiensi anggaran

CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin mengakui selama pandemi covid-19 telah terjadi peralihan konsumen dari offline ke online sehingga layanan e-commerce menjadi sesuatu yang dicari. “Kami juga melihat walaupun daya beli masyarakat menurun, spending di e-commerce malah banyak,” katanya.

Karena itu, jelas dia, perusahaan terus meyakinkan para investor untuk menyuntikkan modal di tengah pandemi covid-19. Perusahaan juga melihat kembali pengeluaran yang esensial untuk operasional perusahaan.

“Jadi, hal paling bertanggung jawab untuk dilakukan saat ini bagaimana kami bisa berhemat. Perusahaan harus bijak memangkas beberapa anggaran belanja perusahaan hingga situasi membaik,” ucap Rachmat.

Startup lainnya, Kopi Kenangan, menghadapi perubahan melalui pendanaan seri B senilai US$109 juta dari investor yang sama pada seri A, yakni, Sequoia Capital India serta investor lainnya, seperti Kunlun, Sofina, B Capital, Horizons Ventures, Verlinvest, dan Alpha JWC Ventures.

“Pendanaan itu digunakan perusahaan untuk berinvestasi dalam teknologi bagi pengembangan layanan, meluncurkan pro duk baru, memperkuat bisnis, dan melindungi karyawan di tengah covid-19,” ungkap CEO Kopi Kenangan Edward Tirtanata. (Dro/S-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya