Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
LEMBAGA pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat menjadi 1,8% pada tahun ini sebagai dampak pandemi covid-19. Namun, kondisi akan membaik secara kuat pada satu atau dua tahun ke depan.
Proyeksi yang disampaikan S&P pada Jumat (17/4) itu selaras dengan assessment Bank Indonesia (BI).
Menurut Departemen Komunikasi BI, keputusan pemerintah untuk mengeluarkan sejumlah langkah kebijakan fiskal yang berani akan membantu mencegah pemburukan ekonomi jangka panjang.
“Karenanya, tingkat pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia diperkirakan akan tetap jauh di atas rata-rata negara lainnya,” demikian penjelasan Departemen Komunikasi BI, kemarin.
Lebih lanjut, menurut S&P, keunggulan dari sisi kinerja ekonomi jangka panjang itu mengindikasikan dinamika ekonomi yang konstruktif di Indonesia.
Di sisi eksternal, S&P memandang nilai tukar rupiah yang sempat terdepresiasi cukup tajam telah berdampak negatif terhadap sektor eksternal dan meningkatkan biaya utang luar negeri sehingga dapat memengaruhi kemampuan pemerintah dalam membayar kewajiban mereka.
Meskipun demikian, S&P meyakini Indonesia dapat mengelola risiko tersebut mengingat dalam beberapa tahun terakhir Indonesia mempunyai akses yang besar dan berkelanjutan ke pasar keuangan dan penanaman modal asing, bahkan ketika situasi pasar keuangan
sedang bergejolak.
“S&P juga memandang fl eksibilitas nilai tukar rupiah akan memberikan manfaat bagi daya saing eksternal Indonesia selama beberapa tahun ke depan dan memperbesar ruang bank sentral dalam menjaga cadangan devisa,” lanjut Departemen Komunikasi BI.
S&P juga memperkirakan nilai tukar rupiah akan secara bertahap menguat seiring dengan kondisi pasar keuangan global yang berlanjut stabil hingga akhir 2020.
Di sisi fiskal, kenaikan defi sit fiskal akan memperbesar jumlah utang pemerintah dalam beberapa tahun ke depan. Namun, S&P memahami bahwa kenaikan defisit tersebut merupakan dampak dari langkahlangkah extraordinary yang diambil oleh pemerintah sebagai respons terhadap guncangan eksternal yang sangat tidak mudah diprediksi. (Des/Ant/X-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved