Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau pembangunan megaproyek kilang minyak di Tuban, Jawa Timur, Sabtu (30/11).
Proyek Grass Root Refinery (GRR) tersebut dikelola PT Pertamina (Persero) yang pembangunannya terintegrasi dengan Petrokimia.
"Saya luar biasa senang di sini. Surprise satu megaproyek yang akan dibangun Pertamina. Saya diperintahkan presiden kawal proyek-proyek yang menjadi inisiatif Pemerintah," kata Menhub Budi Karya di lokasi proyek GRR Tuban, Jawa Timur (30/11).
Proyek pembangunan kilang merupakan salah satu proyek strategis nasional Pemerintahan Joko Widodo.
Baca juga: Presiden Puas dengan Perkembangan Proyek Patimban
Indonesia, lanjutnya, sangat membutuhkan kilang-kilang minyak baru mengingat kebutuhan minyak dan gas nasional yang terus meningkat.
"Bayangkan ada 260 juta penduduk Indonesia membutuhkan minyak itu sendiri. Oleh karenanya, tadi saya sudah dijelaskan oleh Bu Nicke (Dirut Pertamina) untuk membangun satu kilang," tambahnya.
Pembangunan kilang Tuban dilakukan melalui kerja sama antara PT Pertamina dengan Rosneft Oil Company (Rusia) melalui pembentukan perusahaan Joint Venture PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PT PRP&P) pada 28 November 2017 dengan kepemilikan Pertamina 55% dan Rosneft 45%.
Menurut Dirut Pertamina Nicke Widyawati, kapasitas pengolahan minyak yang dibangun mencapai 300 ribu barel per hari dengan investasi mencapai US$16 miliar atau sekitar Rp225 triliun.
Adapun kilang tersebut akan menjadi kilang dengan teknologi tercanggih di dunia yang memproduksi Euro V (kualitas minyak terbaik).
"Ini kilang yang sudah ditunggu sejak lama, jadi kami siap. Ini sudah mulai pekerjaan reklamasi tahap pertama. Jadi akan dilanjutkan sampai 200 ha," kata Nicke.
Proyek kilang Tuban direncanakan selesai pada 2026, dengan Mechanical completin direncanakan pada awal 2026 dan Operation Acceptance pada Juni 2026 dan dengan program akselerasi diharapkan selesai Juni 2026. (OL-2)
Seluruh sertifikat kesehatan awak pesawat tersebut masih berlaku pada saat kejadian.
Ahmad Safei meminta Kementerian Perhubungan bersama Basarnas, TNI, dan Polri untuk segera melakukan pencarian korban hilangnya pesawat ATR 42-500
Pemerintah telah membuka Crisis Center di Bandara Sultan Hasanuddin untuk memberikan pendampingan kepada keluarga.
Pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga Air Traffic Control (ATC) memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi.
Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar telah melakukan persiapan pembukaan Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat koordinasi informasi.
Keputusan tersebut diambil setelah terjadinya kecelakaan maut bus di Tol Krapyak, Semarang, yang menewaskan 16 penumpang pada Desember 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved