Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
AMERIKA Serikat (AS) memutuskan untuk mengenakan bea masuk sebesar 25% kepada setiap produk baja yang masuk ke negara tersebut.
Niatnya, langkah itu diambil untuk mengamankan produk-produk baja asal AS dari serangan produk baja asing. Namun, pada kenyataannya, kebijakan tersebut malah menyulitkan para pelaku usaha 'Negeri Paman Sam'.
Seperti Allegheny Technologies Incorporated (ATI) Metals yang setiap tahun mengimpor sekitar 300 ribu ton lembaran baja senilai 600 juta dolar ASdari Indonesia.
Perusahaan tersebut kini harus mengeluarkan bea masuk 25% dari baja yang didatangkan.
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Kasan Muhri mengungkapkan ATI Metal kemudian mengajukan permohonan bantuan kepada Indonesia untuk melobi pemerintah AS untuk memberikan keringanan.
Baca juga : JK : Industri Baja Nasional Kalah Saing Karena Teknologi
"Dalam kunjungan ke AS, kami bertemu pelaku usaha setempat dan mereka meminta bantuan kami. Mereka ingin kami melobi pemerintah AS agar bea masuk dihilangkan," ujar Kasan di kantornya, Jakarta, Senin (25/11).
Sedianya, ATI Metals telah mengajukan pembebasan bea masuk langsung kepada pemerintah AS.
Mereka kemudian diberi opsi yakni pembebasan bea masuk tetapi hanya untuk kuota sebesar 300 ribu ton.
Jika ATI Metal mendatangkan baja melebihi kuota, akan dikenai bea masuk 25%.
Di Indonesia, lembaran baja banyak diproduksi di Morowali, Sulawesi Tengah. Produsen utamanya adalah Tsingshan Group, investor asal Tiongkok. (OL-7)
Pada kuartal IV 2025, industri tekstil dan produk tekstil tercatat tumbuh 4,37 persen secara tahunan di tengah tekanan global dan perlambatan permintaan di sejumlah negara tujuan ekspor.
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal.
Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut, di tengah kondisi ekonomi global yang tak pasti.
BPS melaporkan kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai US$282,91 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 6,15%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 kembali mencatatkan surplus signifikan.
Partisipasi Sarinah di Indonesia Pavilion yang berlangsung pada 19–23 Januari 2026 di Davos, Swiss, menandai dimulainya fase penguatan ekspor perusahaan mulai tahun ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved