Kamis 03 Oktober 2019, 23:00 WIB

Enggar Bentuk Satgas Audit Impor Tekstil

Irvan L Sihombing | Ekonomi
Enggar Bentuk Satgas Audit Impor Tekstil

ANTARA
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

 

MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan pemerintah akan mengaudit angka pengenal impor untuk produsen (API-P) industri tekstil karena diduga ada kebocoran impor tekstil.

Audit dilakukan untuk mendapatkan data pasti jumlah impor tekstil yang sesungguhnya dilakukan oleh industri.

"Akan dibentuk satgas untuk mengauditnya. Satgas bertugas mengaudit kapasitas industri dan berapa kebutuhan impor sesungguhnya," ujar Enggartiasto dalam acara Retret Kementerian Perdagangan di Batu, Malang, Rabu (2/10) malam.

Hal itu disampaikannya untuk menanggapi keluhan para pengusaha tekstil yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) awal September lalu. Para pengusaha itu mengeluh akibat membanjirnya tekstil impor di dalam negeri dalam 10 tahun terakhir. Hal itu dikhawatirkan mematikan industri tekstil Tanah Air.

Enggartiasto memastikan pihaknya langsung bergerak cepat untuk merespons keluhan itu. Pihaknya pun menginisiasi pembentukan satgas audit yang beranggotakan unsur dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Kementerian Perindustrian, Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), serta Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri (Daglu).

Ia menduga banjirnya impor tekstil berawal dari ulah importir nakal yang memanipulasi jumlah impor sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan sesungguhnya.

"Potensi kebocoran timbul karena produsen terkadang tidak jujur dengan jumlah yang dibutuhkan industri," ujarnya.

Enggartiasto menambahkan, untuk meningkatkan pengawasan terhadap arus masuk barang impor, pemeriksaan impor di Pusat Logistik Berikat (PLB) dikembalikan ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan.

Pemeriksaan di PLB saat ini terbukti gagal menangkal kebocoran lantaran dilakukan oleh lembaga survei. "Kami akan periksa dan ubah sistem PLB ke Bea Cukai. Kami akan keluarkan izin impor berdasarkan kapasitas industri yang akan dilakukan audit segera," tegasnya.

Neraca perdagangan negatif

Sebelumnya, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mendesak pemerintah segera memberlakukan tarif bea masuk untuk menahan laju impor tekstil yang sudah tak terbentung dalam 10 tahun terakhir.

Ketua Umum API Ade Sudrajat mengatakan, dalam 10 tahun terakhir, ekspor pada industri tekstil dan produk tekstil nasional (TPT) memang naik 3%, tetapi impor naik jauh lebih pesat ke angka 10,4%.

Sementara itu, neraca perdagangan pada industri TPT terus tergerus dari US$6,08 miliar pada 2008 ke US$3,2 miliar pada kuartal I 2019.

Padahal, di sisi lain, konsumsi per kapita terus tumbuh. Pada 2018 tercatat pertumbuhan konsumsi TPT sebesar 8,13 ton atau naik 4% secara tahunan.

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSYFI) juga mengeluhkan banjirnya impor di industri hulu tekstil, yakni produksi serat dan benang.

Akibat banjirnya impor itu, produk dari industri hulu, khususnya di sektor pembuatan kain, kalah bersaing dengan kain impor karena tak banyak diserap oleh industri garmen di hilir.

Seretnya penjualan di industri hulu itu pun merembet pada kinerja produsen kain lokal, termasuk benang. (E-2)

Baca Juga

DOK MI

BKPM Dorong Investasi Industri Mamin

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Kamis 28 Januari 2021, 07:10 WIB
Secara rerata, aliran modal asing yang masuk ke Indonesia dari sektor mamin mencapai Rp60 triliun tiap...
ANTARA

Mendag Kaji Insentif bagi Sektor Otomotif

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 28 Januari 2021, 07:05 WIB
Dengan adanya pemasukan pada sektor perdagangan, termasuk otomotif, Lutfi optimistis daya beli masyarakat akan meningkat pada tahun...
MI/M Irfan

Siapkan Strategi Pascapemulihan

👤M Ilham Ramadhan 🕔Kamis 28 Januari 2021, 07:00 WIB
Melalui pembentukan holding diharapkan ekosistem sektor pariwisata dapat menjadi katalis pemulihan di sektor...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya