Headline
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
Kumpulan Berita DPR RI
TOTAL eksisting nasabah Bank UOB sebanyak 500 ribu. Dalam kategori segmen muda, yaitu profesional muda dan keluarga muda kalangan tersebut memiliki porsi 50%.
“Dalam lima tahun, kami targetkan jumlah nasabah bisa meningkat menjadi 1 juta nasabah, dengan harapan 75% berupa milenial,” jelas President Director PT Bank UOB Indonesia (UOB Indonesia), Kevin Lam, pada acara UOB Economic Outlook 2020 yang mengangkat tema Unleasing the most powerful growth engine : the consuming class, di Jakarta, Rabu (28/8). Acara yang sama berlangsung kemarin, di JW Marriott Hotel, Kota Medan, Sumatra Utara, dan Sheraton Hotel Ballroom Surabaya, Jawa Timur.
PT Bank UOB Indonesia (UOB Indonesia) meyakini generasi milenial Indonesia akan menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi seiring dengan meningkatnya konsumsi pribadi kelas menengah dan memiliki daya beli yang kuat.
Milenial merupakan generasi pertama yang tumbuh dengan perkembangan komputer dan internet. Generasi ini tercatat berjumlah 89 juta orang atau 44% dari total usia produktif di Indonesia di 2030.
Menurut Ekonom UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja, Indonesia memang harus waspada akan perlambatan ekonomi dunia sebagai akibat dari perang dagang dan pemulihannya akan lebih lama dan Indonesia terkena imbasnya secara aset finansial.Namun, katanya, fundamental Indonesia dipandang UOB masih cukup kuat mencakup ekspor bersih, investasi, dan konsumsi pribadi.
“Pendorong pertumbuhan ekonomi utama masih tetap bertumpu pada konsumsi pribadi yang mencapai lebih dari 50% PDB Indonesia, dengan pangsa pasar generasi milenial yang diharapkan bisa menjadi tulang punggung dan pendongkrak perekonomian Indonesia selama 10 tahun ke depan,” ujar Enrico pada kesempatan yang sama.
Pertumbuhan ekonomi akan dimotori meningkatnya pendapatan dan kemampuan belanja milenial serta berbagai solusi yang diciptakan berbagai perusahaan untuk melayani kebutuhan digital dan preferensi konsumsi generasi ini yang semakin besar.
Riset ekonomi UOB Indonesia tentang tingkat pendapatan berbagai segmentasi populasi antara 2010 hingga 2019, pendapatan riil kaum milenial tumbuh sebesar 8,6% per tahun secara tingkat pertumbuhan bertahap (compound annual growth rate). Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan antara 3%-5% pada kelompok demografi lainnya.
Kaum milenial Indonesia dewasa ini menghabiskan hingga 50% pendapatan mereka pada ‘gaya hidup 4S’, yaitu sugar (makanan dan minuman), skin (perawatan tubuh dan kecantikan), sun (liburan dan hiburan), dan screen (konsumsi layar digital).
“Maka profesi-profesi milenial, seperti culinary artist, barista, games developer menjadi menjamur karena peminatnya juga banyak. Kalau semua ini bisa dipacu, dipicu diarahkan dengan benar, kami proyeksikan PDB Indonesia bisa mencapai 6,5% pada 2030,” terang Enrico.
Hal itu, katanya, bisa terwujud bila pemerintah, regulator, dan pebisnis mampu bersinergi, PDB 6,5% di 2030 bisa tercapai tanpa mengandalkan komoditas. Sementara itu, sekarang masih ditunggu hasil dari infrastruktur untuk menambah pertumbuhan.
Dalam jangka pendek, Indonesia diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan positif. Untuk itu, UOB mengantisipasi tingkat pertumbuhan global yang tetap rendah, diprediksi sebesar 0,1% dari tahun ini hingga 2020, seiring dengan ketegangan hubungan dagang yang terjadi di tingkat global lebih jauh Iagi, reformasi ekonomi yang diterapkan pada akhir siklus komoditas belum menampakkan hasil yang utuh bagi Indonesia. “Pada jangka menengah, faktor-faktor seperti reformasi keberlanjutan di bidang ekspor manufaktur dan kebijakan investasi, serta pembelanjaan fiskal yang hati-hati akan membantu menjaga ekonomi dalam mencapai target pertumbuhan pemerintah sebesar 6% di 2024,” ujar Enrico.
UOB memprediksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia secara konsisten masing-masing sebesar 5,1% pada 2019 dan 5,2% pada 2020, di tengah gejolak ekonomi global saat ini. “Bila kebijakan pemerintah benar dan rule of the game itu clear, Indonesia bisa mendorong asing bukan repatriasi, tapi reinvestasi profitnya. Data menunjukkan asing sedang mengumpulkan dana di off shore di luar market Indonesia sebesar US$4,8 miliar dalam waktu 17 bulan,” jelas Enrico.
Transaksi digital meningkat
Inovasi sistem pembayaran di Indonesia saat ini mengalami pergeseran ke transaksi digital banking meningkat pesat. Kini terjadi pergeseran di masyarakat dari transaksi dari tunai ke nontunai, khususnya berbicara ritel. Hal itu membuat pelaku penyelenggara pembayaran juga bergeser dari yang didominasi bank menjadi nonbank dalam pembayaran digital.
“Dengan membawa ponsel sudah ada kartu debit, uang elektronik, kartu kredit. Semua dalam satu genggaman. Ini menjadi tantangan bagi bank issuer kartu kredit dan juga lembaga yang mengeluarkan kartu kredit itu sendiri,” ujar Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti saat memberi keynote speech.
Data Bank Indonesia menunjukkan transaksi perdagangan barang pada 14 marketplace utama di Indonesia pada Juli mencapai Rp23,7 triliun atau tumbuh 125% (yoy) atau 38% (mtm). Peningkatan serupa pasca-Ramadan secara month to month juga terjadi pada Juli tahun sebelumnya yang meningkat 27% month to month jika dibandingkan dengan Juni 2018.
Transaksi yang paling banyak dilakukan ada tiga jenis barang, yaitu fesyen (21,8%), ponsel dan aksesori (19,3%), serta personal care dan kosmetik (11,5%). Tiga jenis produk ini berkontribusi lebih dari 50% terhadap total transaksi digital.
“Maka Kita harus mendorong perkembangan ekonomi digital ini. BI berusha mengintegrasikan ekonomi konvensional dengan ekonomi digital sehingga kami bisa memonitoring. Melihat pengalaman di Tiongkok dan Eropa fintech berkembang pesat di saat regulator belum siap sehingga terjadi shadow banking yang menekan ekonominya,” ujar Destry. (Try/PS/FL/S1-25)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved