Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Perang Dagang Pengaruhi Kondisi Rupiah

Atikah Ishmah Winahyu
28/8/2019 13:03
Perang Dagang Pengaruhi Kondisi Rupiah
Seorang pembeli menunjukkan uang Dolar Amerika Serikat yang ditukarnya di gerai penukaran valuta asing, Jakarta(ANTARA/Puspa Perwitasari)

PERANG dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok masih berlanjut, bahkan semakin memanas. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan kondisi tersebut cukup berdampak pada Rupiah.

"Kita merasakan Rupiah bergerak di range 14.100, kemudian 14.200 dan kita nggak sendirian karena semua negara mengalami hal yang sama," ujar Destry dalam acara UOB Economic Outlook 2020 di Jakarta, Rabu (28/8).

Detry menjelaskan, perang dagang AS-Tiongkok mendorong depresiasi Yuan sehingga menyebabkan mata uang emerging market, termasuk Rupiah turut terdepresiasi.

"Karena perang dagang antara AS-Tiongkok akhirnya lebih mendorong terjadinya depresiasi di Yuan. Bagaimanapun Yuan itu adalah salah satu simbol dari emerging market, jadi once Yuan-nya depresiasi, itu akan mendorong yang lainnya juga terdepresiasi," terangnya.

Baca juga: IHSG Diprediksi Bergerak di Zona Hijau

Dalam hal ini, peran Bank Indonesia sebagai regulator terus berusaha untuk menjaga market agar terus percaya diri karena Destry menilai sejauh ini ekonomi domestik masih tetap terjaga.

"Ini kan masalah confident ya, kita harus bisa menunjukkan pada masyarakat bahwa ekonomi domestik kita so far oke, terjaga, kita masih ada pertumbuhan, inflasi kita juga terjaga, fiskal kita juga sangat terjaga, jadi ini yang harus ditumbuhkan," tuturnya.

Destry menambahkan, kapan pun pasar membutuhkan likuiditas, BI telah menyediakan berbagai instrumen salah satunya instrumen pasar uang DNDF. Instrumen ini pun dinilai mampu meredam folatilitas yang terjadi pada Rupiah.

"Jadi itu adalah power transaction juga ada di market, jadi mereka nggak perlu nyari keluar. Dan ini Alhamdulillah bisa meredam folatilitas yang terjadi di Rupiah," jelasnya.

Di samping itu, Destry mengakui kondisi ekonomi global saat ini tidak memungkinkan Rupiah dapat menguat hingga di bawah 14.000. Namun, dia menegaskan bahwa folatilitas Rupiah masih terjaga dibandingkan mata uang negara lain.

"Rupiah langsung menguat di bawah 14.000, itu juga akan sulit karena memang kondisi ekonomi globalnya sekarang seperti itu. At least kita bergerak sama dengan negara-negara lain, dengan folatilitas yang lebih terjaga," tutupnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya