Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Perang Dagang AS-Tiongkok, Indonesia Dapat Dampak Positif

Andhika Prasetyo
30/7/2019 18:24
Perang Dagang AS-Tiongkok, Indonesia Dapat Dampak Positif
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong(Media Indonesia)

INDONESIA sudah menikmati berkah yang datang dari fenomena perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Salah satu contohnya adalah pembangunan pabrik oleh Pegatron di Batam, Kepulauan Riau.

Perusahaan asal Taiwan yang bergerak pada sektor perakitan elektronik termasuk Iphone itu memutuskan untuk merelokasi sebagian kegiatan produksi dari Tiongkok.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembongsal Taiwan yang bergerak pada sektor perakitan elektronik termasuk Iphone itu memutuskan untuk merelokasi sebagian kegiatan produksi dari Tiongkok.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong mengungkapkan penyuplai utama perusahaan raksasa Apple tersebut sudah beroperasi di Batam pada kuartal kedua 2019.

Mereka menanamkan invstasi sekitar US$40 juta dan diproyeksikan akan menghasilkan nilai ekspor sebesar US$1 miliar pada 2021 mendatang.

"Sekarang sudah mulai beroperasi tapi kan butuh waktu, pelan-pelan. Mulai bisa optimal nanti pada 2021," ujar Lembong di kantornya, Jakarta, Selasa (30/7).

Selain Pegatron, terdapat satu perusahaan perakitan elektronik lainnya yang juga berpotensi merelokasi kegiatan produksi ke Tanah Air yakni Compal Group.

Korporasi yang juga penyuplai produk Apple itu kini dikabarkan tengah mencari lokasi yang tepat untuk basis produksi pertama di ASEAN.

Masuknya investor-investor baru itu, ucap Lembong, tidak terlepas dari kinerja pemerintah yang sudah bekerja keras melobi para pelaku usaha untuk membangun pabrik di Indonesia.

"Sejak triwulan tiga tahun lalu, kementerian/lembaga sudah bergerak. Delegasi gabungan BKPM dan Kementerian Perindustrian sudah bolak-balik terus ke Dongguan, tidak jauh dari Guangzhou. Kami lobi mereka untuk relokasi pabrik ke Indonesia," tuturnya.

Baca juga: KSSK Tegaskan Stabilitas Sistem Keuangan Triwulan II 2019 Terjaga

Kegiatan relokasi banyak dilakukan perusahaan yang memiliki pabrik di Tiongkok guna menghindari hambatan dagang dari AS.

Sebagaimana diketahui, Negeri Paman Sam menerapkan bea masuk tinggi untuk beberapa barang impor termasuk produk elektronik dari Negeri Panda.

Akhirnya, banyak pelaku usaha memutuskan membangun pabrik baru di negara lain supaya tidak terkena bea masuk tinggi.

Terlepas dari perang dagang, Lembong menjelaskan relokasi pabrik dari Tiongkok ke negara-negara Asia Tenggara memang sudah menjadi harga mati bagi perusahaan-perusahaan padat karya.

Pasalnya, jumlah penduduk usia produktif di Negeri Tirai Bambu sudah mengalami penurunan cukup signifikan sehingga tidak mampu menopang industri manufaktur yang membutuhkan banyak tenaga kerja.

"Sekarang memang sudah waktunya mereka beralih ke Asia Tenggara atau negara lain seperti India dan Bangladesh. Dalam hal ini Indonesia memiliki peluang sangat besar karena penduduk usia produktif yang dominan," jelasnya. (X-15)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Henri Siagian
Berita Lainnya