Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
Kinerja penjualan semester 1 2019 terpengaruh bukan semata-semata karena pemilu/kampanye.
PASAR properti Tanah Air mulai hidup kembali, terutama setelah Pemilu 2019 usai. Karena itu, sudah tidak ada halangan lagi bagi investor yang selama ini tiarap.
"Namun kalau dibilang apakah sudah membaik saat ini, ya baru menuju. Kami melihatnya 2020 barulah benar-benar membaik," ujar Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, kepada Media Indonesia, kemarin.
Setelah penetapan pemerintahan baru menyusul keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dengan sengketa pilpres, lanjutnya, yang ditunggu pasar, yaitu kebijakan di bidang ekonomi. Ini terkait dengan kebijakan masih konsisten dengan yang lama, ada perbaikan, atau perubahan.
Menurut Ferry, sebelum pemilu, sebenarnya pasar punya kapasitas untuk bergerak. Cuma, pasar membutuhkan kepastian.
Soal tekanan global berupa perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok, ia sebut pengaruhnya tidak secara langsung ke sektor properti, tetapi ekonomi. Dampak itu berkaitan pula dengan proyeksi ekonomi dan nilai tukar rupiah. Jika dampaknya ke ekonomi bernilai positif, tentu mendorong industri properti juga.
Pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan positif yang menstimulus sektor usaha properti dalam negeri. Contohnya, kebijakan pajak barang mewah PPnBM, PPh 22, dan pembebasan PPN untuk rumah sederhana atau bersubsidi.
"Kebijakan terakhir yang saya lihat membuat properti bergairah itu pembebasan PPN untuk rumah sederhana. Ini karena cakupannya lebih luas. Untuk PPnBM enggak terlalu luas sehingga implikasinya tak terlalu signifikan," jelasnya.
Belum membaik
Di sisi lain, konsultan properti Savills Indonesia memprediksi penjualan di pasar properti belum akan menunjukkan kenaikan yang signifikan. Hal itu didasarkan pada performa penjualan properti selama semester I 2019 yang belum menampakkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya.
Direktur Riset Savills Indonesia, Anton Sitorus, mengatakan secara fundamental, pasar properti masih mengalami tekanan domestik dan global. Di dalam negeri, perhelatan pemilu yang telah selesai ternyata masih menyisakan ketidakpastian dengan masuknya gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Ini juga berpengaruh kuat terhadap penjualan properti.
"Perkiraan saya, sampai akhir tahun pasar properti belum ada kenaikan yang signifikan," ujar Anton di Jakarta, pekan lalu.
Namun, bukan berarti sektor properti tidak akan bangkit. Kalau ketegangan global menurun ditambah insentif pemerintah plus kenaikan peringkat investasi Indonesia di mata dunia, kita masih memiliki daya tarik. "Investor properti masih melirik Indonesia," tandasnya.
Dimintai keterangan terpisah, Head Marketing and Branding PT BSD Diamond Development, Laurencia Evilyn, mengimbuhkan kinerja penjualan semester 1 2019 terpengaruh bukan semata-semata karena pemilu/kampanye.
"Yang bikin market negatif kalau ada kejadian-kejadian seperti demonstrasi dan insiden bom," ucap Laurencia.
Menurutnya, setelah pengumuman hasil Pemilu 2019, sebagian besar pasar properti bereaksi positif, tapi tetap masih ada yang menunggu dan melihat perkembangan. Adapun mengenai relaksasi pajak barang mewah disebutnya memberi dampak positif
"Sesungguhnya pasar kita sudah cukup edukatif. Yang lebih dikhawatirkan, yaitu suasana yang tidak kondusif, bukan pemilu atau hasilnya," tandasnya. (S-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved