Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Koster Tolak Program KB di Bali

Arnoldus Dhae
28/6/2019 03:00
Koster Tolak Program KB di Bali
Gubernur Bali Wayan Koster(MI/Ruta Suryana )

GUBERNUR Bali I Wayan Koster mengeluarkan instruksi secara resmi kepada para bupati dan wali kota di seluruh Bali agar segera menghentikan kampanye program Keluarga Berencana (KB) dengan slogan cukup dua anak.

Gubernur asal Buleleng itu sepertinya tidak main-main.

Ia mengeluarkan larangan tersebut melalui Instruksi Gubernur Bali Nomor 1545 Tahun 2019 tentang Sosialisasi Program Keluarga Berencana (KB) Krama Bali tertanggal 14 Juni 2019.

Secara keseluruhan, isi dari instruksi tersebut, antara lain meminta kepada para bupati dan wali kota di Bali agar menghentikan kampanye dan sosialisasi KB dengan slogan ‘dua anak cukup’ atau dua anak lebih baik. Selain itu, dalam instruksi tersebut juga disampaikan agar para bupati dan wali kota serta seluruh jajarannya, seperti BKKBN dan Dinas Kesehatan lainnya agar lebih menyosialisasikan KB Krama Bali.

Menurut Koster, KB Krama Bali yang dimaksud ialah program KB yang sesuai dengan kearifan lokal Bali serta diarahkan untuk mewujudkan manusia atau krama Bali yang unggul dan berkualitas. “Instruksi ini harus dilaksanakan dengan disiplin dan penuh tanggung jawab sebagai pelaksanaan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru,” ujarnya.

Menurut Koster, program KB dengan tagline ‘dua anak cukup’ atau ‘dua anak lebih baik’ sangat tidak layak untuk diterapkan di Bali. “Kalau hanya dua anak, dua nama terakhir, yakni Nyoman dan Ketut akan hilang dari Bali. Kalau Nyoman dan Ketut hilang, generasi Bali akan habis, kerifan lokal Bali akan habis, populasi orang Bali akan cepat habis, dan seterusnya,” ujarnya.

Selain itu, populasi masyarakat Bali dari tahun ke tahun terus menurun karena kampanye ‘dua anak cukup’ sudah dilakukan sejak lama dan tertanam kuat di benak masyarakat Bali. Itulah sebabnya populasi orang Bali terus menurun. “Untuk itu, di Bali bukan hanya cukup dua anak, melainkan harus empat anak untuk bisa diberi nama Wayan, Made, Nyoman, Ketut.”

Nyoman dan Ketut hilang
Sejak program KB dengan tagline ‘cukup dua anak’ digulirkan pada 1970, dikhawa­tirkan mengancam populasi warga Bali. Bahkan setelah dikaji, ternyata nama Nyoman dan Ketut di Bali terus menghilang. “Saat ini baik di kampung-kampung dan kota-kota di Bali, dua nama terakhir itu sudah jarang ditemukan,” ujar Gubernur Koster.

Menanggapi hal itu, Kadis Kependudukan, Catatan Sipil, dan KB Provinsi Bali I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra mengatakan, Bali sebenarnya punya kearifan lokal sejak dahulu kala.

“Dari warisan leluhur bahwa dalam keluarga itu ada empat anak, yakni Made, Wayan, Nyoman, dan Ketut. Program KB yang digulirkan sejak 1970-an sangat merugikan di Bali. Dua nama terakhir terus menghilang karena KB cukup dua anak sejak itu berhasil,” ujarnya.

Diakui I Gusti, hingga kini banyak keluarga yang menerap­kannya karena mindset cukup dua anak itu masih melekat erat. “Kalau ini di­biarkan, habislah Bali. Krama Bali akan habis dan kemudian budaya Bali juga punah,” ujarnya.

Data terakhir menunjukkan, penduduk di Bali, pertumbuh­annya hanya 2,1, yakni dalam keluarga hanya ada dua anak. Jadi, total fertilizer rate (TFR) hanya 2,1. Padahal secara nasional, mencapai 2,2 TFR-nya. (N-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya