Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
LETAK geografis di tengah Cincin Api Pasifik membuat Indonesia cukup akrab dengan bencana gempa bumi. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi sejumlah gempa besar, di antaranya mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, serta Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.
Ketika gempa menerjang, objek paling terpengaruh, yaitu bangunan, terutama rumah penduduk. Ini akibat sebagian besar rumah yang rusak dibangun dengan konstruksi yang tidak tahan gempa.
Untuk itu, pemerintah terus membangun rumah tahan gempa untuk merehabilitasi wilayah-wilayah terdampak di sejumlah daerah. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) menargetkan pembangunan setidaknya 8.500 rumah rehabilitasi atau rumah rekonstruksi tahan gempa untuk tahun anggaran 2019.
Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PU-Pera, Khalawi Abdul Hamid, mengatakan ribuan rumah rehab dan rumah rekonstruksi itu dibangun dengan teknologi atau sistem rumah instan sederhana sehat (Risha). Risha berkonsep knock down yang pembangunannya tidak membutuhkan semen dan bata.
Pembangunan Risha cukup menggabungkan panel-panel beton dengan baut. Dengan demikian, rumah ini dapat berdiri kukuh dalam waktu jauh lebih cepat. "Waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan rumah tahan gempa tipe 36, mulai pembuatan panel sampai selesai, selama 30 hari," ujar Khalawi saat dihubungi Media Indonesia, Senin (10/6).
Setelah melalui proses pengembangan sejak 2004, rumah itu diklaim memenuhi standar nasional Indonesia (SNI). Risha teruji tahan gempa hingga 8 skala Richter (SR) dan 8 modified mercalli intensity (MMI).
Risha telah didirikan di lebih dari 60 wilayah yang didominasi warga kelas menengah ke bawah. Wilayah terbanyak, seperti Sumatra bagian barat, Jawa bagian selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.
Sejauh ini yang telah dibangun pihaknya sebanyak 1.300 unit tipe 36 sejak tahun anggaran 2015. Selain tipe tersebut, pernah dibangun pula tipe 27 dan tipe 45. Dari segi biaya juga sangat kompetitif. Hanya sekitar Rp50 juta, warga dapat memiliki satu unit tipe 36 dilengkapi dengan kamar mandi.
Bale Kohana
Bukan cuma Kementerian PU-Pera, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pun meluncurkan prototipe rumah tahan gempa yang diperkenalkan sebagai Bale Kohana. Rumah ini bersifat permanen dan dapat dibongkar pasang untuk daerah rawan gempa.
"Kita memang harus semakin siap karena Indonesia ingin menjadi negara yang tangguh bencana," tutur Kepala BPPT Hammam Riza di Tangerang Selatan, Banten, belum lama ini.
Rumah tahan gempa bertipe 36 itu dibangun dengan memiliki dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu, dan ruang dapur. Rumah itu dihargai sekitar Rp170 juta-Rp175 juta.
Pihaknya berencana mengirim Bale Kohana ke Lombok. Rumah tersebut dibangun di lahan hunian permanen, bukan lahan hunian sementara.
Bale Kohana dinamakan rumah komposit karena terdiri dari berbagai bahan material, khususnya komposit polimer yang kuat dan ringan.
Rumah itu didesain dengan konstruksi modular, pre-assembly, dan sistem join interlock yang dapat dibangun dengan waktu yang relatif singkat.
Dalam simulasi, rumah itu mampu bertahan dan tidak roboh ketika diguncang gempa magnitudo 7. BPPT akan meningkatkan ketahanan rumah tersebut pada guncangan gempa yang lebih kuat.
Prototipe tersebut dibangun dalam waktu tiga pekan. Tapi nanti ditargetkan rumah itu dapat dibangun dalam waktu sepekan.
Kuda-kuda atau struktur Bale Kohana juga dipasang langsung dengan genting metal. Ketika terjadi guncangan besar, struktur ini tidak akan patah atau roboh seperti rumah konvensional dengan tembok bata dan genting tanah liat atau keramik. (S-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved