Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
Setiap Ramadan dari tahun ke tahun penjualan properti relatif cenderung turun jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.
TUNJANGAN hari raya (THR) tidak memengaruhi penjualan properti. Hal itu lantaran uang THR yang diterima lebih banyak diprioritaskan untuk kebutuhan keluarga yang lebih mendesak. Misalnya, untuk keperluan biaya pendaftaran sekolah dan kuliah anak yang biasanya dikeluarkan pada Mei hingga Juli.
Wakil Sekjen DPP Realestate Indonesia (REI), Bambang Ekajaya, mengakui sebenarnya pasar properti perumahan Tanah Air sudah mengalami penyesuaian dan penurunan sejak datangnya Ramadan.
"Tren-tren penyesuaian dan penurunan ini umumnya selalu berulang di setiap Lebaran, terutama untuk properti rumah-rumah sederhana," ujar Bambang saat dihubungi, Senin (27/5).
Penyebab lainnya, iklim politik yang belum stabil juga ikut memengaruhi. Menurutnya, segmen properti perumahan sederhana sangat sensitif dengan hal tersebut, paling tidak pengaruhnya 23%. Di sisi lain, kondisi pasar perumahan untuk keperluan investasi tidak mengalami pengaruh, tetapi masalahnya terletak pada pengembang yang cenderung wait and see.
Bambang mengatakan, potensi pasar properti perumahan selalu ada dan menjanjikan. "Harga properti akan stuck sampai Juli dan setelahnya kita harapkan mulai membaik. Di sisi lain, masyarakat juga baru selesai merayakan Lebaran atau baru balik dari mudik, jadi belum fokus membeli perumahan," terangnya.
Sebelumnya, Property Index dari Rumah.com menyebutkan bahwa
secara historikal, setiap Ramadan dari tahun ke tahun penjualan properti relatif cenderung turun jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Pola ini terbentuk dari kebiasaan para calon pembeli yang akan menunda melakukan transaksi hingga satu bulan setelah Lebaran dan polanya akan naik lagi hingga mendekati tahun baru.
Head of Marketing Rumah.com, Ike Hamdan, dalam keterangan tertulisnya mengakui pasar properti akan mengalami sedikit penyesuaian terkait Ramadan, yakni hal ini dipengaruhi lonjakan harga barang konsumsi yang terjadi di bulan suci ini.
Disebutkan bahwa tren harga pasar properti mengalami penyesuaian pada periode Ramadan dalam tiga tahun terakhir. Pada periode Ramadan 2016, mulai awal Juni 2016 (akhir Q2) sampai awal Juli 2016 (awal Q3), tren pasar properti mengalami penyesuaian pada kuartal ketiga.
Selanjutnya, pada Ramadan 2017 dari akhir Mei 2017 sampai akhir Juni 2017 (Q2), penyesuaian harga terjadi pada kuartal kedua. Sementara itu, pada periode Ramadan 2018, mulai pertengahan Mei sampai dengan pertengahan Juni 2018 (Q2), penyesuaian juga terjadi pada kuartal kedua.
"Untuk Ramadan 2019, yang dimulai awal Mei 2019 sampai dengan awal Juni 2019 (Q2), diperkirakan juga akan terjadi tren yang sama. Penyesuaian ini lebih karena perhatian pasar teralihkan pada konsumsi jangka pendek seputar hari raya. Namun demikian, tren jangka panjang tetap positif, baik dari sisi harga pasar maupun ketersediaan rumah," tutur Ike.
Selama tiga tahun terakhir dan juga tahun ini, Ramadan dan Lebaran berlangsung pada kuartal kedua dan awal kuartal ketiga. Pada periode tersebut, terlihat tren penyesuaian harga yang cenderung seragam.
Rumah.com Property Index menunjukkan harga properti pada kuartal ketiga 2016 mengalami penurunan sebesar 0,4% dari kuartal sebelumnya. Pada 2017, indeks menunjukkan bahwa harga properti pada kuartal kedua mengalami kenaikan sebesar 1,0%. Sementara itu, pada 2018, harga properti mengalami kenaikan di kuartal kedua 2018 sebesar 1,14%.
Dari sisi suplai, Rumah.com Property Index menunjukkan tren penurunan pada periode Ramadan dan Lebaran pada 2017 dan 2018. Pada 2017, indeks menunjukkan suplai properti pada kuartal kedua mengalami penurunan sebesar 2,08%, sedangkan pada 2018, suplai properti mengalami penurunan di kuartal kedua 2018 sebesar 2,11%.
Menyasar kelas menengah
Ike menambahkan, untuk pasar properti menengah bawah memang akan terpengaruh inflasi yang terjadi sepanjang periode Ramadan. Fenomena itu bukan hal baru karena telah terjadi dari tahun ke tahun. "Namun, hal ini tidak terlalu berdampak pada kelas menengah atas. Pasar inilah yang bisa disasar pengembang dengan strategi berbeda," tandasnya.
Di sisi lain, REI berharap pemerintah akan lebih banyak memberikan program subsidi untuk kepemilikan rumah. Diharapkan bantuan subsidi tidak hanya diberikan Bank Tabungan Negara, tetapi juga bank pemerintah lainnya.
Untuk menggairahkan pasar properti, REI berencana menggelar pameran properti berskala nasional serentak di enam kota di Indonesia pada
September mendatang. "Itu sebagai salah satu upaya asosiasi untuk mengangkat properti sebagai kebutuhan investasi dan menggerakkan lagi pasar yang sedang lesu," tandas Bambang. (S-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved