Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Pelemahan Rupiah Diyakini Sementara

(Nur/Ata/E-2)
14/5/2019 23:00
Pelemahan Rupiah Diyakini Sementara
Pekerja menunjukkan uang Rupiah dan Dollar Amerika Serikat di sebuah tempat penukaran uang(ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan disebabkan kondisi eksternal yang saat ini sedang tidak kondusif. Keadaan itu berpotensi bisa merugikan negara-negara emerging market seperti Indonesia.

“Jika situasi eksternal sedang tidak kondusuf, itu bisa merugikan negara-negara emerging market termasuk Indonesia. Ya seperti tahun lalu,” katanya saat ditemui di kantornya, Selasa (14/5)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan akhir-akhir ini. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Selasa (14/5), rupiah berada di angka 14.444 per dolar AS. Adapun pada Senin (13/5) berada di angka 14.362 per dolar AS.

Dalam pandangan ekonom dari Bank Permata Josua Pardede, pelemahan nilai tukar rupiah bersama sebagian besar mata uang Asia dan mata uang utama lainnya dipengaruhi memanasnya tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok, setelah Jumat (10/5) lalu pemerintah AS memberlakukan penaikan tarif impor produk Tiongkok.

Apalagi berikutnya dibarengi langkah balasan pemerintah Tiongkok yang juga berencana memberlakukan penaikan tarif impor produk AS sebesar US$60 miliar.

Hal tersebut kemudian mendorong pelemahan tajam mata uang yuan Tiongkok di pasar offshore sebesar 0,97% ke level 6,9121, yang pada umumnya memberikan sentimen negatif pada seluruh mata uang Asia.

“Berlanjutnya perang dagang kedua negara itu akan berpotensi mendorong perlambatan ekonomi global dan menekan laju pertumbuhan volume perdagangan global,” kata Josua.

Meski begitu, Josua menyatakan sejauh ini pelemahan rupiah kali ini hanya bersifat sementara. Pasalnya, saat ini pelemahan tersebut didukung faktor musiman permintaan dolar yang meningkat serta sentimen negatif dari eksternal.

“Rupiah akan cenderung menguat ketika sentimen perang dagang mereda dan ditopang perbaikan defisit transaksi berjalan,” tutupnya. (Nur/Ata/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya