Headline
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
DPR minta agar dana tanggap darurat bencana tidak dihambat birokrasi berbelit.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 berada pada angka 5,07% year on year (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibanding periode yang sama sebelumnya, yakni 5,06%.
Berkaitan dengan itu, Ekonom Bank Nasional Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto menyarankan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada periode-periode ke depan, pemerintah harus jeli melihat peluang dalam sektor ekonomi produktif.
"Pemerintah harus jeli mendorong sektor-sektor ekonomi produktif untuk bisa tumbuh lebih kuat lagi, yaitu sektor pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi dan pertambangan," kata Ryan kepada Media Indonesia, Selasa (7/5).
Ryan menyatakan, kelima sektor tersebut memiliki andil besar terhadap pembentukan PDB yang kuat dengan multiplier effects yang besar. Selain itu, Ryan menyebutkan lima poin yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah ke depan untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Pertama, dorong kontribusi konsumsi rumah tangga tumbuh ke kisaran 5,5%. Selanjutnya, dorong pertumbuhan belanja pemerintah ke kisaran 8%," ungkapnya.
Baca juga: Presiden Dorong Anak Muda Raih Peluang di Sektor Ekonomi Digital
Selain itu, pemerintah harus mendorong kontribusi pertumbuhan PMTB ke kisaran 10% baik PMA maupun PMDN dan mendorong pertumbuhan ekspor setidaknya di kisaran 3%.
Sejalan dengan itu, pertumbuhan impor juga perlu ditekan di kisaran minus 10%.
"Di kuartal kedua 2019 dan seterusnya mestinya pertumbuhan ekonomi atau PDB kuartal bisa tumbuh rata-rata di kisaran 5,1-5,3% (yoy) supaya pertumbuhan PDB Indonesia bisa mencapai batas bawah 5,1% (yoy) dan batas atas 5,2% (yoy)," tutur Ryan.
Untuk diketahui, pada kuartal I 2019 konsumsi rumah tangga tumbuh 5,01%. Sementara itu, investasi langsung (PMTB) hanya tumbuh 5,03%, relatif rendah dari yang diharapkan.
Pada kuartal ini, ekspor juga tumbuh minus 2,08% sedangkan impor tumbuh minus 7,75%.
Di sisi lain, belanja pemerintah masih bisa tumbuh 5,21%. Paling tunggi yakni pertumbuhan konsumsi LNPRT sebesar 16,93%. Hal itu berkaitan dengan adanya aktivitas pemilu.(OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved