Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH berharap kontribusi sektor energi bisa ditingkatkan dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia demi mencegah bencana perubahan iklim. Untuk itu, proyek energi terbarukan sangat dinantikan bisa segera beroperasi.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), pada 2016 Indonesia bisa menurunkan emisi GRK sebanyak 249,8 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) atau 8,7% dari emisi business as usual (BAU) pada 2030 sebanyak 2.869 juta ton CO2e.
“Dari sektor kehutanan penurunan sudah optimal, di sektor energi masih ada ruang untuk lebih menurunkan emisi GRK,” kata Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian LHK Ruandha Agung Sugardiman dalam keterangannya di Jakarta, kemarin.
Sebelumnya, Sesditjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Munir Ahmad menyatakan pemerintah terus mendorong pengembangan energi bersih terbarukan sebagai upaya penurunan emisi GRK dari sektor energi.
Salah satu yang kini sedang dalam tahap pembangunan ialah PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Kementerian LHK pun sudah menyatakan pembangunan PLTA Batang Toru aman bagi orang utan.
Munir menambahkan PLTA Batang Toru akan memperkuat keandalan jaringan listrik Sumatra dan menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang saat ini dimanfaatkan. Peralihan ke penggunaan energi bersih itu pun akan berkontribusi pada pengurangan emisi GRK sebanyak 1,6 juta ton setara CO2 per tahun.
Beroperasinya PLTA Batang Toru juga bisa menghemat biaya operasional produksi listrik hingga US$300 juta per tahun. “Jika dibandingkan, biaya operasional PLTA Batang Toru hanya sekitar Rp1.600 per kwh. Bandingkan jika memakai bahan bakar minyak, bisa mencapai Rp3.000 per kwh.” (E-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved