Jumat 19 April 2019, 14:30 WIB

Kemenperin Genjot Hilirisasi Komoditas Kelapa

Nur Aivanni | Ekonomi
Kemenperin Genjot Hilirisasi Komoditas Kelapa

MI/BAYU ANGGORO
Gati Wibawaningsih

 

KEMENTERIAN Perindustrian terus memacu hilirisasi komoditas kelapa agar menjadi produk industri dalam negeri yang bernilai tambah tinggi. Adapun langkah strategis yang sedang dilakukan, yakni melalui pelaksanaan program pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) kelapa terpadu.

"Kita ketahui bahwa kelapa mempunyai banyak manfaat, mulai dari akar sampai daun dan buah bisa diproduksi atau diolah oleh sektor IKM hingga industri besar. Jadi, upaya pengembangan IKM kelapa terpadu juga dapat meningkatkan pendapatan bagi pelaku agribisnis kelapa," kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih dalam siaran persnya, Jumat (19/4).

Setelah menyelenggarakan program pengembangan IKM kelapa terpadu di Kabupaten Minahasa Selatan, agenda serupa juga dilakukan di Provinsi Gorontalo. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk bimbingan teknis serta fasilitasi mesin dan peralatan pengolahan kelapa yang dapat menjadikan produk pangan atau pengolahan arang aktif.

Sebagai informasi, Provinsi Gorontalo memiliki areal perkebunan kelapa mencapai 71.524 hektare, dengan jumlah tanaman menghasilkan seluas 47.822 ha. Luasan itu setara 4.782.200 pohon dengan produksi 120 butir per pohon per tahun atau total produksi 575.864.000 butir per tahun.

"Dari potensi alam itu, telah tumbuh industri pengolahan dari mulai skala kecil sampai dengan skala besar," ujar Gati.

Bahkan, sambungnya, beberapa produk olahan kelapa, seperti tepung kelapa asal Gorontalo telah diekspor ke Eropa (60%), Asia (20%) dan Afrika (20%).

"Kami optimistis, pengembangan IKM kelapa terpadu di Gorontalo mampu meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa melalui diversifikasi produk olahan kelapa maupun pengolahan produk sampingannya yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para pelaku agribisnis kelapa mulai dari sektor hulu sampai dengan hilir," tutur Gati.

Selain di Gorontalo, Ditjen IKMA Kemenperin juga sudah menggelar kegiatan bimbingan teknis produksi serta fasilitasi bantuan mesin dan peralatan IKM Kelapa Terpadu di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Upaya tersebut diyakini bisa menunjang peningkatan produksi IKM kelapa karena memanfaatkan teknologi modern.

"Pengembangan IKM Kelapa Terpadu di Kabupaten Tanjabbar terdiri dari tiga jenis kegiatan utama, yaitu pengembangan produk pangan berbasis kelapa, pengembangan IKM arang tempurung kelapa, dan peningkatan kemampuan IKM permesinan Teknologi Tepat Guna (TTG) pendukung pengolahan kelapa," terang Gati.

Lebih lanjut, menurut Gati, bisnis industri pengolahan kelapa di Indonesia masih prospektif dan terus berkembang di beberapa wilayah seperti Riau, Sulawesi Utara, Gorontalo, Jambi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Maluku Utara.

Program pengembangan IKM kelapa terpadu yang dilakukan oleh Ditjen IKMA, kata Gati, adalah melalui pendekatan regional yang selaras dengan kebijakan daerah untuk mendorong peningkatan produksi kelapa dan olahan turunannya. Pengembangan tersebut tentunya berbasis kepada ketersediaan sumber daya alam, sumber daya manusia, teknologi tepat guna dan pasar.

"Kami bertekad untuk terus fokus mendorong sektor industri pengolahan kelapa di Tanah Air. Selain karena potensi alamnya yang melimpah, produk hilirisasi industri kita harus berbasis bahan baku dalam negeri dengan kualitas yang mampu kompetitif di pasar ekspor," tegas Gati.

Produk turunan kelapa memberikan kontribusi nilai ekspor yang lebih besar jika dibandingkan dengan ekspor buah kelapa utuh. Data BPS tahun 2017 menunjukkan bahwa nilai ekspor buah kelapa sebesar US$121,9 juta, sedangkan nilai ekspor produk turunan kelapa mencapai US$1,2 miliar yang terdiri dari coco fibre, copra, desicated coconut, coconut cream, coconut sheel, charcoal, dan coconut activate carbon.

Indonesia merupakan negara penghasil kelapa terbesar di dunia di atas Filipina, India, Srilanka, dan Brasil. Bila merujuk data BPS tahun 2017, luas area pohon kelapa mencapai 3,65 juta ha atau 14,58% dari 25,05 juta ha total areal perkebunan di Indonesia, dengan total produksi tanaman kelapa sebesar 2,87 juta ton.

Kemudian, berdasarkan data Asian and Pasific Coconut Community (2018), jumlah petani yang terlibat dalam agribisnis kelapa sebanyak 5,09 juta rumah tangga. (A-2)

Baca Juga

Dok. Infinix

Kolaborasi dengan Mobile Legends, Infinix Luncurkan Ponsel Gaming

👤Dero Iqbal mahendra 🕔Minggu 11 April 2021, 05:05 WIB
Infinix berkolaborasi dengan Moonton sebagai pengembang resmi Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) untuk mewujudkan ponsel yang nyaman...
MI/LIna Herlina

Dukung Larangan Mudik, ASDP Tutup Penjualan Tiket untuk 6-17 Mei

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 11 April 2021, 04:53 WIB
ASDP mengimbau pengguna jasa penyeberangan agar menunda perjalanan dengan kapal ferry pada periode waktu tersebut, kecuali mereka...
Dok. Pribadi

Kolaborasi Vape East Movement-VIVO Gencarkan Edukasi Seksual

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Minggu 11 April 2021, 04:31 WIB
"Hal ini dilakukan oleh kedua belah pihak sebagai bentuk ajakan penikmat rokok elektrik / vapers untuk memerangi banyaknya kasus yang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Tata Ulang Desain Olahraga Nasional untuk Capai Prestasi

 Prestasi tidak dicapai dengan proses singkat. Kerap kali butuh waktu bertahun-tahun untuk meraihnya

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya