Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Pasar Obligasi Jadi Incaran Investor

Atalya Puspa
18/4/2019 04:00
Pasar Obligasi Jadi Incaran Investor
Petugas kasir menghitung mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing(ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

BAHANA TCW Investment Management optimistis pasar obligasi Indonesia masih menjadi incaran para investor pada 2019 karena adanya dukungan dari kondisi ekonomi nasional yang membaik.    

“Mata uang rupiah terjaga terhadap dolar AS, inflasi cukup terkendali serta sentimen hasil quick count pemilu yang sesuai ekspektasi membuat pasar obligasi kita masih di-lirik investor,” ujar Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonom Bahana TCW Investment Management  Budi Hikmat ketika dihubungi Antara di Jakarta, Rabu (17/4).

Budi menambahkan perhatian pemerintah untuk memperbaiki defisit neraca berjalan turut direspons positif pasar.  “Perbaikan defisit menjadi faktor yang kuat bagi pasar SBN (surat berharga negara). Ditambah lagi dengan sikap The Fed yang dovish,” ujarnya.  

Ia menilai sikap The Fed yang cenderung dovish membuka peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga pada 2019.

“Kalau suku bunga BI diturunkan, pasar obligasi kita akan semakin menarik bagi investor. Likuiditas makin bagus dan investor asing akan menambah porsi kepemilikannya,” ujarnya.

Selain itu, minat investor terhadap kepemilikan obligasi juga tidak lepas dari predikat investasi Indonesia yang berada di level investment grade (layak investasi).   

“Dampak positif obligasi akan diikuti pasar saham yang juga akan ikut naik,” katanya.    

Selanjutnya, Budi mengatakan sentimen yang akan menjadi perhatian investor ialah jajaran kabinet atau menteri yang akan mewakili pemerintahan selanjutnya.    

Untuk menjaga kepercayaan investor terhadap instrumen obligasi di dalam negeri, Budi Hikmat mengharapkan perbaikan terhadap transaksi berjalan dengan fokus mendorong industri manufaktur.    

“Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada komoditas, harus mendorong manufaktur. Negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam sudah berkembang manufakturnya,” tandasnya.

Menurut dia, manufaktur menjadi salah satu kunci memperbaiki defisit transaksi berjalan.

Manufaktur yang berkembang akan mendorong kinerja ekspor Indonesia lebih berkualitas.  

Lelang SBSN
Sementara itu, ­pemerintah menyerap dana Rp6,06 triliun dari lelang enam seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara dengan total penawaran yang masuk sebesar Rp18,5 triliun.   
 
Keterangan pers Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menyebutkan jumlah dana yang diserap memenuhi target indikatif sebesar Rp6 triliun.    

Adapun dari enam seri SBSN yang dilelang, pemerintah memberikan imbal hasil rata-rata tertimbang dari 6,28524% hingga 8,75989%.

Utuk jatuh tempo dari surat berharga yang dilelang berada antara 2019 dan 2047.

Pemerintah tidak memenangkan lelang dari seri PBS014 meskipun penawaran mencapai Rp6,42 triliun dengan imbal hasil terendah 7,15625% dan tertinggi 7,43375%.
 
Sebelumnya, pada lelang enam seri sukuk pada Selasa (2/4), pemerintah menyerap dana sebesar Rp8,03 triliun dengan penawaran masuk mencapai Rp18,41 triliun. (Ant/E-1) 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya