Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Penurunan Suku Bunga Terhadang Defisit Transaksi      

Atalya Puspa
27/3/2019 23:45
Penurunan Suku Bunga Terhadang Defisit Transaksi      
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara(MI/PIUS ERLANGGA)

INDONESIA masih menghadapi pekerjaan rumah untuk memperbaiki masalah fundamental defisit transaksi berjalan sebelum Bank Indonesia (BI)  berani untuk menurunkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate.    

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara seusai peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2018 di Jakarta, kemarin, mengatakan ada tiga hal yang sangat memengaruhi penentuan kebijakan suku bunga acuan bank sentral, yakni inflasi, kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve/The Fed, dan defisit transaksi berjalan.   

Inflasi selalu berada di rentang bawah sasaran bank sentral (inflation targeting framework) sejak awal 2015 hingga awal 2019.

Adapun The Fed sudah melontarkan sinyalemen bahwa pihaknya tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga acuan setidaknya dalam dua tahun ke depan sehingga dapat mendorong modal asing ke dalam negeri.    

Dengan demikian, faktor penentu yang masih menjadi hambatan ialah defisit transaksi berjalan Indonesia. Sepanjang 2018, defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai 2,98% produk domestik bruto (PDB) atau US$31 miliar. 

“Dari tiga faktor itu, tinggal satu faktor yang harus kita pantau dan itu penting untuk kebijakan moneter ke depan,” ujar Mirza seperti dikutip Antara.    

BI dalam rapat dewan gubernur periode Maret 2019 ini menahan tingkat suku bu­­nga acuan di level 6% untuk keempat kalinya.

Terakhir kali bank sentral memangkas suku bunga acuan ialah 1,5 tahun lalu ketika tekanan ekonomi global mereda serupa dengan kondisi ekonomi saat ini.   

Di 2019, ketika suku bunga acuan di negara-negara maju diperkirakan tidak akan meningkat secara cepat karena perlambatan ekonomi global, negara-negara berkembang termasuk Indonesia mendapat relaksasi untuk mengoptimalkan instrumen suku bunga acuan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.    

Jaga daya tarik
Namun, kata Mirza, fokus kebijakan su­ku bunga acuan BI masih diprioritaskan kepada stabilitas eksternal. Fokus kepada stabilitas eksternal dilakukan untuk men­jaga daya tarik aset keuangan berdenominasi rupiah sehingga modal ­asing terus masuk dan mampu membiayai defisit transaksi berjalan.   

Sebelumnya Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Ryan Kiryan­to mengatakan kebijakan suku bunga acuan BI memang perlu ditujukan memperkuat stabilitas eksternal perekonomian di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi global. 
 Kebijakan BI menahan suku bunga acu-an pada level 6% sudah tepat dalam mengatasi masalah defisit transaksi berjalan yang masih menjadi ancaman. 

  “Ibarat permainan sepak bola, langkah BI memperkuat pertahanan domestik dari tekanan eksternal merupakan langkah yang cerdas sebelum tekanan eksternal ta­di makin kuat dan besar,” ujar Ryan, beberapa waktu lalu.

Tahun ini pemerintah menargetkan dapat menekan CAD menjadi 2,5% dari PDB.  Terkait dengan upaya menekan defisit tersebut, pemerintah dan BI berupaya meningkatkan aliran dana masuk. Sektor pariwisita ditargetkan dapat meraih de­­visa US$17,6 miliar dari kunjungan 20 juta turis asing.

Selain itu, untuk menekan laju impor, pemerintah meningkatkan penggunaan bio­diesel 20 % (B20) dari sawit. Penggunaan komponen lokal di proyek infrastruktur juga terus digiatkan. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya