Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Wamen ESDM Tepis Isu Stagnasi Investasi di Sektor Migas

Satria Sakti Utama
04/3/2019 16:55
Wamen ESDM Tepis Isu Stagnasi Investasi di Sektor Migas
(MI)

TERUS anjloknya produksi migas nasional khususnya di sektor perminyakan membuat pemerintah selalu menjadi sasaran tembak para pengkritik. Saat ini produksi minyak di Indonesia masih berkisar di angka 831 ribu barel per hari, jauh dari kebutuhan dalam negeri yang mencapai 1,3 juta barel per hari.

Untuk memenuhi kekurangan tersebut, pemerintah pun harus menyandang status sebagai net importer minyak sejak 2004. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mendorong program-program untuk mencari solusi peningkatan produksi minyak.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar dalam kegiatan Focus Gruop Discussion (FGD) dengan tema Menilik Industri Migas Indonesia yang diselenggarakan Media Indonesia, kantor Media Group, Kedoya, di Jakarta pada Senin (4/3) pagi mengaku telah menelurkan sejumlah kebijakan.

Salah satu yang dinilai paling krusial ialah skema produksi migas dari cost recovery menjadi gross split. Skema ini dinilai lebih menguntungkan bagi negara karena segala biaya produksi ditanggung Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Pembagian hasil produksi minyak yang awalnya 85% untuk negara dan sisanya ke KKKS pada skema cost recovery, berubah menjadi 57% untuk negara dan 43% menjadi jatah KKKS. Adapun di sektor produksi gas bumi, pemerintah mendapatkan bagian 52% dari sebelumnya 70%.

Perubahan skema ini diragukan mampu menarik minat investor, tapi Arcandra membuktikan bahwa ketertarikan investor untuk menanamkan modal berinvestasi di blok-blok migas nasional kini meningkat dengan skema gross split.

Total terdapat 14 blok eksplorasi migas yang telah diminati investor dalam dua tahun terakhir, lima pada 2017 dan sembilan di tahun berikutnya. Angka ini jauh meningkat jika dibandingkan pada 2015 dan 2016. Ketika itu, dengan skema cost recovery, tidak ada satu pun investor.

"Kita tawarkan blok eksplorasi kita tidak ada yang laku nol tahun 2015 dengan cost recovery, 2016 juga seperti itu. Kita ubah dengan gross split di 2017 laku lima. Nah ini perlu disampaikan faktanya berkembang. Tahun 2018 kita tawarkan lagi dan laku sembilan. Apakah ini yang dinamakan stagnan?" ungkap Arcandra dalam paparannya.

Pria asal Padang ini pun menambahkan bahwa terdapat lima perusahaan lainnya yang saat ini merubah kontrak investasinya menjadi gross split. Salah satunya ialah perusahaan minyak asal Italia Eni yang saat ini sedang melakukan eksplorasi di wilayah Marakes di Blok Sepinggan, Kalimantan Timur.

"Ada lima yang terbesar Eni di Marakes di kuater terakhir 2018 sudah jalan plan of development (PoD). Mereka propose ke gross split dan dengan komitmen kami empat minggu sudah disetujui," imbuh Arcandra.

Kendati demikian, langkah aktif pemerintah ini tidak akan serta merta meningkatkan produksi minyak nasional secara signifikan. Arcandra mengakui program yang dijalankan pihaknya baru akan menuai hasil 10-15 tahun mendatang.

"Kita punya 14 blok eksplorasi kalau kita percaya statistik ada 20% keberhasilannya. Kalau beruntung menghasilkan minyak 10 tahun, kemudian PoD lima tahun ya 15 tahun lagi kita bisa tingkatkan produksi kita. Semoga dimengerti bahwa bisnis migas bukan lari cepat, melainkan lari maraton," tutupnya. (A-2)

Berita terkait : Perbaiki Tata Kelola Hulu Migas



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya