Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KONDISI internal yang kuat dan peredaan tekanan eksternal membuat rupiah terus terapresiasi fleksible hingga pernah mencapai lebih rendah dari Rp14.000 di awal Februari 2019.
Periode penguatan ini terjadi antara lain karena meningkatnya kepercayaan pasar atas penguatan indikator fundamental Indonesia selama Triwulan IV-2018.
"Inisiatif Bank Indonesia di pasar swap, pasar Domestik Nondeliverable Forward, hingga penerapan negative Tobin Tax pada konversi devisa hasil expor sumber daya alam. Ini juga ikut berkontribusi dalam menarik investor ke asset rupiah," ujar Kepala Kajian Makro Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Febrio Kacaribu, Kamis (21/2).
Baca juga: Bank Indonesia Perlu Menahan Suku Bunga Kebijakan
Rupiah pada perdagangan Kamis (21/2) terpantau pada pukul 09.20 WIB berada di kisaran Rp14.059 per dolar AS ,melemah 0,11% dari penutupan sebelumnya di Rp14.044 per dolar AS.
Merujuk pada Cencus Economic Information Center (CEIC) Data Company, nilai tukar beberapa negara berkembang dalam 1 tahun terakhir (yoy) per (15/2) menunjukkan rupiah melemah 4%, lebih buruk dari pada peso Filipina yang mengalami depresiasi 0,5% dan baht Thailand yang stabil 0%.
Namun nilai tukar rupiah Indonesia masih jauh lebih baik dari beberapa mata uang antara lain ringgit Malaysia yang melemah 4,8%, rupee India yang terkoreksi turun 11,5%, real Brasil yang terdepresiasi 15,4%, rubbel Rusia tergerus 15,5%, rand Afrika Selatan yang anjlok 21,6% dan lira Turki yang tenggelam 39,2%. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved