PT Pertamina (persero), melalui anak usahanya PT Pertamina Lubricants, mengoperasikan Production Unit Jakarta (PUJ) di Tanjung Priok, Jakarta. PUJ tersebut memiliki fasilitas lube oil blending plant dengan kapasitas produksi sebesqr 270 juta liter per tahun, grease plant dengan kapasitas 8 ribu metrik ton (mt) per tahun, dan viscosity modifier plant berkapasitas 14 juta liter per tahun. Proyek tersebut dinilai untuk menguatkan kompetisi Pertamina di dunia internasional, khususnya Asean.
Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan PUJ bakal menjadi pabrik yang memproduksi pelumas terbesar di Asia Tenggara. Menurut dia, pihaknya menghadapi tantangan dalam hilirisasi dan pemasaran produknya karena subsidi untuk Pertamina sudah banyak dipangkas. Karena itu, produk hilir Pertamina saat ini harus berkompetisi keras dengan produk hilir dari para kompetitornya.
"Kita lagi bertransmorfasi, yang tadinya produk kita disubsidi, sekarang sangat sedikit yang disubsidi. Makanya kompetisi kita makin besar," ucap Dwi saat peluncuran 10 produk dan proyek Pertamina di Tanjung Priuk, Jakarta, Jumat (11/12).
Nilai investasi untuk membuat PUJ tersebut mencapai Rp1 triliun. Dari kapasitas produksi sebesar 270 juta liter, 8%-10% diekspor, salah satunya ke Australia.
Dwi juga mengatakan pihaknya bakal membangun SPBU di beberapa negara Asean, yakni Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Dia menargetkan SPBU Pertamina di Myanmar bisa beroperasi sebelum 2018.
Di kesempatan yang sama, Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan pihaknya sudah memasukan penawaran untuk lelang SPBU di Myanmar. Bila menang lelang, dirinya mengklaim bisa membangun 1.300 SPBU dengan BUMN Myanmar.
"Kita tetap mau masuk ke Indochina. Thailand, Myanmar, Vietnam, Kamboja. Tahun depan kita masuk lah," tukas Bambang.
Presiden Direktur Pertamina Lubricants Gigih Wahyu Hari Irianto mengatakan pihaknya juga akan berekspansi pabrik lubrikan di Tiongkok dan ditargetkan beroperasi pada 2017. Saat ini, total produksi lubrikan Pertamina sebesar 570 juta liter per tahun, dalam negeri sebesar 510 juta liter per tahun dan Thailand sebesar 60 juta liter per tahun.
"Kalau kapasitas di sana (Tiongkok) ga gede ya, sekitar di bawah 100 juta liter per tahun lah. Yang terbesar di Jakarta," tukas Gigih.
Lebih lanjut, Gigih Wahyu Hari Irianto mengatakan pihaknya membuat pelumas khusus kendaraan berbahan bakar biodiesel, pelumas jenis Meditran SX Bio. Pelumas tersebut dibuat untuk spesifikasi B20-B50 atau bahan bakar yang mengandung 20%-50% kandungan biodiesel atau fame.
Produk baru tersebut, nilai dia, dibuat untuk menyiapkan mantadori B20 yang akan dilakukan pada tahun depan. Pelumas biodiesel itu diklaimnya tidak akan merusak mesin berbahan bakar biodiesel seperti jika memakai pelumas biasa.
"Biodiesel itu punya efek negatif dan yang paling signifikan itu soal filter block. Harus sering diganti. Kalau pakai pelumas biasa, kekentalan naik dan tidak bisa melumasi dengan sempurna, maka kerusakan lebih besar dan jangkauan jelajah makin turun," terang Gigih.
Sayangnya, Gigih tidak menargetkan jumlah penjualan pelumas biodiesel. Dia hanya menyatakan pelumas tersebut akan dijual terlebih dahulu di dalam negeri.
Kendati demikian, dia menargetkan penjualan pelumas Pertamina Lubricants pada tahun depan mencapai 450 ribu kiloliter (kl) di dalam negeri. Sedangkan pelumas yang akan diekspor tahun depan ditargetkan mencapai 15 ribu kl.
"Realisasi penjualan kita tahun ini bagus, sekitar 435 ribu kl, ekspor masih di bawah 10 ribu," tukas Gigih.
Belum SNI
Namun, pelumas biodiesel tersebut, dinyatakan belum memegang sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Menteri BUMN Rini Soemarno meminta kepada Kementerian Perindustrian untuk memberikan SNI kepada pelumas tersebut agar bisa bersaing di tingkat global.
"Yang penting Pertamina harus mampu memasarkan produknya, apalagi dengan MEA bakal banyak produk yang masuk. Tetapi saya yakin, kalau Kementerian Perindustrian membantu memberikan SNI untuk lubrikan," ucap Rini.
Menteri Perindustrian Saleh Husin menandaskan pihaknya bisa segera memberikan SNI untuk produk lubrikan, khususnya pelumas biodiesel. Pihaknya berjanji bakal berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk hal tersebut. "Kita kan memang sudah mengharuskan SNI untuk program lubrikan sehingga produk kita terlindungi. Ya secepatnya," tukas Saleh.(Q-1)