PT Industri Kereta Api Indonesia (Inka) (persero) sedang mengembangkan transportasi terpadu untuk mengangkut komoditas tambang dan kelapa sawit.
Direktur Komersial dan Teknologi Inka Yunendar Aryo Handoko mengemukakannya dalam seminar nasional industri penunjang perkeretaapian di Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat, Jumat (11/12). "Kita bikin transportasi terpadu untuk mengangkut kelapa sawit dari kebun sampai dengan pabrik pengolahan," ujarnya.
Menurutnya, pengembangan untuk sistem terpadu dengan mengacu lahan yang tersedia. "Kalau lahannya berbukit-bukti seperti di Kalimantan, kita (Inka) mengembangkan cableway," kata Yunendar.
Pengembangan transportasi terpadu merupakan permintaan dari pasar. Meski harga komoditas sedang turun.
Saat ini, kata Yunendar, Inka sedang mengerjakan tahap pengembangan (prototyping) untuk transportasi terpadu.
Ia mengharapkan Inka bisa mempublikasikan pengembangan transportasi terpadu ke publik setelah membuktikan prototipe produk transportasi terpadu. Serta melakukan uji coba.
Transportasi terpadu untuk komoditas tambang dan kelapa sawit, tambahnya, merupakan solusi untuk efisiensi dan menekan ongkos produksi di kedua sektor tersebut.
Sementara Inka mengembangkan pasar baru. Selain perkeretaapian.
Yunendar menambahkan Inka akan bermitra dengan pemangku kepentingan (stakeholder) untuk transportasi terpadu di komoditas tambang dan kelapa sawit. "Inka tidak bisa bgerak sendiri, tentu dengan pemerintah daerah (pemda) dan mungkin investor swasta," katanya.
Pacu ekspor
Ia mengungkapkan Inka sedang mengincar pasar luar negeri di Myanmar dan Srilanka untuk kereta penumpang dan barang. Selain mengikuti tender di Bangladesh untuk 250 kereta penumpang senilai Rp1,5 triliun (US$110 juta) yang akan diumumkan pada Januari 2016.
Ekspor membantu Inka untuk merealisasikan pendapatan mereka di tahun 2016 Rp1,69 triliun, naik 30% dibandingkan proyeksi dalam RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) tahun 2015 Rp1,3 triliun.
"Tender ekspor memiliki nilai besar, itu membantu kita (Inka)," katanya.
Yunendar menambahkan komposisi ekspor dalam pendapatan Inka kurang dari 50% di tahun 2015. Permintaan dari PT Kereta Api Indonesia (persero) dan Kementerian Perhubungan masih mendominasi pendapatan perseroan. Akan tetapi kontribusi ekspor pada pendapatan perseroan akan meningkat menjadi 50% di tahun 2016.
Untuk ekspor, katanya, Inka mendapatkan fasilitas pendanaan dari pemerintah melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) senilai Rp300 miliar.
Yunendar memaparkan Inka sudah mampu memanfaatkan komponen dalam negeri untuk kereta penumpang sebesar 70%. Sedangkan kereta barang mencapai 80%. "Tapi untuk KRL tingkat komponen dalam negeri (TKDN) nya masih di bawah 40%," ujarnya.(Q-1)