Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTUMBUHAN ekonomi AS di 2019 diperkirakan akan melandai di 2,6% setelah mencapai puncaknya pada 2018 yang tumbuh hingga 2,9%. Penyebabnya adalah bangku parlemen AS yang dikuasai oleh Demokrat setelah Pemilu Sela, di kala pimpinan AS Presiden Donald Trump berasal dari partai Republik. Hal itu akan menghambat beberapa kebijakan Presiden.
Sseiring dengan itu, Indonesia di 2019 diprediksi tumbuh pada 5,2%. Dengan demikian selisih antara pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS dan Indonesia akan semakin lebar. Dengan melebarnya selisih tersebut, dana akan mengalir kembali masuk pasar negara berkembang, seperti Indonesia. Rupiah di 2019 cenderung menguat, karena siklus terburuk telah dilewati.
Investor akan melihat kenaikan harga aset, yaitu harga saham dan dari apresiasi mata uang. Ketika investor asing masuk Indonesia mereka akan menghitung kembali dalam bentuk dolar AS.
Ekspektasi mereka harga saham akan naik dan nilai tukar rupiah tidak akan tergerus dalam. Apalagi rupiah dalam Real Effective Exchange Rates (REER) sudah terlalu undervalued sehingga untuk turun lagi semakin terbatas.
"Ini akan membuat tekanan rupiah membaik di 2019," ujar Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya, saat paparan outlook ekonomi 2019, di Jakarta, Kamis (27/12).
Mereka memproyeksikan rupiah akan kembali menguat di bawah 14 ribu atau sekitar 13.920 per dolar AS. Selain dari gap pertumbuhan PDB AS dan Indonesia, argumen lainnya yaitu perbedaan suku bunga juga menjadi faktor tren menguatnya rupiah di 2019.
Saat ini suku bunga The Fed berada dalam target 2,25%-2,5%. Sinyal di akhir tahun menunjukkan AS melunak dengan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan mereka, Fed Fund Rate, hanya akan naik lagi sebanyak dua kali.
"Dengan spread yang relatif kembali melebar antara PDB AS dan Indonesia akan membuat uang kembali ke Indonesia. Sehingga rupiah diprediksi kuat di bawah 14 ribu," papar Hariyanto.
Tadinya pemerintah menargetkan pertumbuhan cukup besar di 7%. Dengan melihat perkembangan, pemerintah beralih dari fokus pertumbuhan ke stabilitas nilai tukar. Ini terbukti dengan Bank Indonesia yang agresif menaikkan suku bunga kebijakan hingga di level 6% untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
"Terlihat jika dibandingkan dengan November asing mulai masuk Indonesia lagi di pasar modal. Oleh karena itu, kami meng-upgrade pasar Indonesia dari underweight ke marketweight," tutur Hariyanto.
Biasanya secara historis pada saat rupiah melemah, inflasi cenderung naik seperti yang terjadi pada 2002, 2006 dan 2010. Tapi kini meski rupiah melemah, inflasi justru bisa turun jinak dan stabil. Hal itu disebabkan pemerintah telah berhasil mengidentifikasi dan mengontrol faktor-faktor penyebab inflasi, seperti cukai rokok, listrik dan bahan bakar.
"Ini mungkin strategi populis pemerintah sebelum pemilu tidak menaikkan harga BBM dan listrik. Namun ini akan bagus untuk sektor ritel. Apalagi pemerintah baru menaikkan alokasi dana program keluarga harapan (PKH) menjadi Rp38 triliun, sehingga juga akan mendorong kemampuan daya beli masyarakat bawah," tukas Hariyanto. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved