Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

BI Nilai Suku Bunga Acuan 6% Tetap Menarik Bagi Investor

Fetry Wuryasti
20/12/2018 18:35
BI  Nilai Suku Bunga Acuan 6% Tetap Menarik Bagi Investor
( ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 19-20 Desember 2018 memutuskan mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00%, suku bunga deposit facility sebesar 5,25%, dan suku bunga lending facility sebesar 6,75%.

BI meyakini tingkat suku bunga kebijakan tersebut masih konsisten dengan upaya menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam batas yang aman. Tingkat suku bunga acuan itu juga dinilai bisa mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik dengan mempertimbangkan tren pergerakan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan.

"Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat ketahanan eksternal, termasuk untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan sehingga turun menuju kisaran 2,5% PDB (produk domestik bruto) pada 2019," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, di Jakarta, Kamis (20/12).

Pertumbuhan ekonomi dunia melandai serta ketidakpastian pasar keuangan tetap tinggi. Pertumbuhan ekonomi AS yang kuat pada 2018 diprakirakan mengalami konsolidasi pada 2019.

Prospek konsolidasi pertumbuhan ekonomi AS dan ketidakpastian pasar keuangan diprakirakan menurunkan kecepatan kenaikan suku bunga kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve (FFR) pada 2019. Fed pada Rabu (20/12), sesuai dengan ekspektasi, menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 2,25%-2,5%.

Di Eropa, pertumbuhan ekonomi cenderung melambat, meskipun arah normalisasi kebijakan moneter bank sentral Eropa (ECB) pada 2019 tetap menjadi perhatian. Di negara berkembang, pertumbuhan ekonomi Tiongkok juga melambat dipengaruhi melemahnya konsumsi dan ekspor neto antara lain akibat pengaruh ketegangan hubungan dagang dengan AS, serta berlanjutnya proses deleveraging di sistem keuangan.

Pertumbuhan ekonomi dunia yang melandai serta risiko hubungan dagang antarnegara dan geopolitik yang masih tinggi berdampak pada tetap rendahnya volume perdagangan dunia. Sejalan dengan itu, harga komoditas global menurun, termasuk harga minyak dunia akibat peningkatan pasokan dari AS, OPEC, dan Rusia. (A-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya