Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Potensi Tekanan Terhadap Rupiah Meningkat

Fetry Wuryasti
18/12/2018 18:50
Potensi Tekanan Terhadap Rupiah Meningkat
(ANTARA)

perdagangan ini karena kekhawatiran pada pertumbuhan ekonomi global yang melambat. Berbagai faktor risiko geopolitik juga memicu sentimen beli terhadap dolar AS yang semakin memukul mata uang pasar berkembang.

"Rupiah ada kesulitan terhadap dolar AS karena sentimen waspada dan data ekonomi Indonesia, sehingga menambah tekanan bagi mata uang ini," ujar Lukman Otunuga, Research Analyst FXTM, Selasa (18/12).

Rupiah memang sejak sepekan lalu bergerak di kisaran 14.500 per dolar AS setelah sempat terapresiasi hingga kisaran 14.200. Pada perdagangan Selasa (18/12), rupiah ditutup pada 14.501,5 per dolar AS, menguat 0,54% dari penutupan sebelumnya di 14.580 per dolar AS.

Performa neraca perdagangan turut membuka tekanan bagi rupiah. Menurut Biro Pusat Statistik, bulan lalu, Indonesia mencatat defisit perdagangan paling lebar sepanjang lebih dari lima tahun terakhir karena penurunan ekspor.

Defisit perdagangan mencapai US$2,05 miliar. Akibatnya, rupiah terancam menutup tahun 2018 dengan kurang menggembirakan.

Walaupun bank sentral AS, The Federal Reserve (Fed) diperkirakan akan menaikkan suku bunga pekan ini, Bank Indonesia sepertinya tidak akan mengambil langkah. Hal itu mengingat BI sudah menaikkan suku bunga sebanyak enam kali sejak Mei.

"Dolar AS diuntungkan oleh arus safe haven dan ekspektasi kenaikan suku bunga di Desember, sehingga rupiah dan banyak mata uang pasar berkembang lainnya tetap terancam melemah," tutur Lukman.

Pekan ini adalah pekan menarik terakhir di tahun ini dengan berbagai peristiwa berisiko, termasuk rilis data ekonomi penting dan berbagai keputusan kebijakan moneter.

Rapat Federal Reserve (The Fed) pekan ini akan sangat dipantau oleh investor. Kenaikan suku bunga terakhir 2018 hampir pasti akan terjadi, namun yang lebih penting adalah bagaimana dot plot (perkiraan) Fed untuk periode 2019 dan selanjutnya.

Apabila pengambil kebijakan moneter AS melihat risiko besar terjadinya perlambatan ekonomi, titik-titik pada dot plot seharusnya menurun. Pernyataan harus lebih imbang antara sedikit optimisme dan kemauan untuk bereaksi cepat, apabila kekhawatiran resesi benar-benar terjadi.

Ketua Dewan Gubernur Fed Jerome Powell kemungkinan akan menghadapi banyak pertanyaan tentang ancaman perlambatan ekonomi AS, terutama meninjau inversi kurva imbal hasil belum lama ini. Investor harus membaca apa yang tersirat untuk memahami posisi Fed pada saat ini.

Bank of England dan Bank of Japan juga akan mengadakan rapat pekan ini, tapi keduanya sepertinya tidak akan menarik. Brexit adalah topik utama di Inggris dan BoE tidak dapat mengambil kebijakan baru sebelum situasi politik lebih jelas.

Sementara itu, kebijakan moneter Jepang sepertinya masih jauh dari pengetatan karena kontraksi ekonomi Jepang belum lama ini. Kemudian, Uni Eropa, Inggris, Kanada, dan AS juga akan merilis angka inflasi.

"Data PDB (produk domestik bruto/pertumbuhan) final AS juga akan dirilis pekan ini, termasuk data lain seperti pemesanan barang tahan lama, penjualan rumah tersedia, pembangunan rumah baru, dan izin pembangunan. Sektor perumahan AS yang semakin melemah dapat menambah kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi di tahun mendatang," tukas Lukman. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya