Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,2%

Erandhi Hutomo Saputra
06/6/2018 13:46
Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,2%
(ANTARA)

BANK Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini sebesar 5,2%. Proyeksi tersebut berubah dari sebelumnya yakni sebesar 5,3%. Country Director Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rodrigo A Chaves mengatakan, koreksi itu dilakukan karena gejolak global yang terjadi akhir-akhir ini.

"Seiring dengan proyeksi pertumbuhan perekonomian global yang melambat dan arus perdagangan menurun dari level tertingginya, pertumbuhan PDB Indonesia diproyeksikan mencapai 5,2% pada 2018," ujar Rodrigo dalam laporan Indonesia Economic Quarterly edisi Juni 2018 di Gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta, Rabu (6/6).

Untuk menopang pertumbuhan tersebut, Bank Dunia memprediksi konsumsi swasta akan sedikit meningkat. Sedangkan pertumbuhan investasi bakal tetap tinggi seiring tingginya harga komoditas yang masih berlanjut.

"Namun mengingat sifat investasi yang sarat impor, ekspor bersih akan terus membebani pertumbuhan ekonomi oleh karena pertumbuhan pertumbuhan ekspor yang melambat sejalan dengan menurunnya perdagangan global," tukasnya.

Bank Dunia juga memprediksi inflasi pada tahun ini berada dikisaran 3,5% atau lebih rendah dari 2017 sebesar 3,8%. Rendahnya inflasi itu, kata Rodrigo, karena pemerintah mampu menjaga harga energi dan perumahan tidak terlalu tinggi.

"Inflasi diperkirakan akan tetap rendah pada tahun ini dan (kemungkinan) meningkat di 2019 karena biaya impor yang lebih tinggi terkait dengan harga minyak mentah yang lebih tinggi dan mata uang yang lebih lemah," jelasnya.

Meski inflasi masih positif, namun Bank Dunia memperingatkan adanya potensi kenaikan defisit transaksi berjalan pada tahun ini sebesar 2% atau lebih tinggi dari tahun lalu sebesar 1,7%.

Defisit transaksi berjalan itu diakibatkan kondisi perdagangan yang lemah dan pertumbuhan global yang melambat. Di sisi lain permintaan dalam negeri diperkirakan akan lebih tinggi.

"Hal itu sejalan dengan proyeksi menurunnya harga komoditas menjelang paruh kedua tahun ini dan berlanjutnya peningkatan permintaan dalam negeri, defisit transaksi berjalan diperkirakan akan melebar," jelasnya.

"Ekspor diperkirakan akan terus melemah karena pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global yang melambat," imbuhnya.

Sementara itu defisit APBN diperkirakan akan mengecil pada tahun ini sebesar 2,1%, dibanding tahun 2017 sebesar 2,5%. Penurunan defisit APBN itu disebabkan penerimaan negara yang diperkirakan akan meningkat secara bertahap. Hal itu disebabkan reformasi perpajakan untuk meningkatan pendapatan negara sehingga menciptakan ruang fiskal yang lebar. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya