Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Indonesia Rem Pertumbuhan Demi Stabilitas Nilai Tukar

Fetry Wuryasti
05/6/2018 16:33
Indonesia Rem Pertumbuhan Demi Stabilitas Nilai Tukar
(ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

PENYESUAIAN likuiditas global terutama dolar AS yang berakibat aliran modal ke Indonesia semakin terbatas, menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Bank Indonesia. Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan BI dan pemerintah mulai mengerem pertumbuhan demi stabilitas.

Pembalikan dana ke AS, volatilitas saham, nilai tukar dan harga komoditi yang bergerak tajam telah berakibat aliran modal ke Indonesia semakin terbatas. Kebijakan Presiden Trump yang memotong pajak dan membuat risiko utang negara tersebut meningkat, turut mengerek imbal hasil US treasury dan nilai tukar dolar AS.

Tidak heran bila pasar berekspektasi suku bunga acuan AS atau Fed Fund Rate akan naik dua hingga tiga kali lipat tahun ini. Hal ini turut dilakukan sejumlah bank sentral negara maju. Arah ekonomi menunjukkan pengetatan global di mana semua negra berlomba-lomba mendapatkan dana. Tren menguatnya dolar AS diprediki akan terus naik samapi akhir tahun.

Dengan kondisi itu, kata Dody, yang penting bagi Indonesia ialah menjaga stabilitas, baik bagi otoritas moneter, fiskal, dan sektor riil. "Kini stability over growth. Kita akan mengedepankan stabilitas sementara waktu. Itu ditunjukkan dengan menjaga inflasi tetap rendah," ujar Dody di gedung bursa efek Indonesia, Selasa (5/6).

Menurutnya, BI menggunakan empat langkah untuk menjaga stabilitas. Pertama, respon kenaikan suku bunga. Hal itu diakui Bank Indonesia, menjadi pilihan yang paling tidak mereka inginkan, namun harus dilakukan. Sebab, mereka melihat ekspektasi risiko ke depan semakin tinggi.

"Maka kenaikan suku bunga 50 bps dalam dua minggu dilakukan untuk menjaga depresiasi nilai tukar tidak semakin dalam dan inflasi agar tetap rendah. Per 4 Juni, secara year to date, depresiasi nilai tukar rupiah terpantau sebesar 2,9%, membaik dari bulan sebelumnya yang sebesar 3,2%."

Penyebabnya, apresiasi Rupiah terjadi selama 10 hari terakhir. Namun demikian, diakui Dody, level rupiah yang sekarang memang masih terlalu murah.

Kedua, stabilitas intervensi dengan cara masuk ke pasar valas dan obligasi, untuk menstabilkan nilai tukar. Cadangan devisa dipakai sebagai intervensi stabilisasi nilai tukar.

"Kami menjaga nilai tukar cukup banyak. Kalau kami tidak masuk mungkin rupiah sudah di level 15 ribu. Seharusnya pelemahan rupiah tidak setajam ini. saat ini terlampai murah . Tapi ini risiko yang harus kami jaga, pro growth dan pro stability," sambungnya.

Ketiga, BI menjaga agar likuiditas rupiah agar tidak sampai 'kering' di pasar. "Selain itu, valas dijaga pada supply dan demand. Meskipun artinya harus berhati-hati bila akan menjaga likuiditas valas karena kemampuan cadangan devisa punya keterbatasan. Jangan perangi pasar bila akan melakukan intervensi," kata dia.

Terakhir, edukasi karena kehilangan membentuk ekspektasi. Tidak dia pungkiri, masyarkat memiliki trauma pada 1997-1998 dan 2012-2013 saat terjadi depresiasi rupiah yang dalam. Akibatnya keyakinan masyarakat relatif rendah terhadap ekonomi dan nilai tukar.

"Kini setalah kebijakan BI kembali menaikkan suku bunga, dan siap memanfaatkan ruang bila harus menaikkan kembali saat uncertainty mengganggu, perlahan nilai tukar menguat dan turut mendorong indeks pasar saham. Harapannya bisa permanen sampai akhir tahun," tukas Dody. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya