Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Pelaku Usaha Pilih Gas Karena Lebih Hemat

Cahya Mulyana
08/5/2018 18:50
Pelaku Usaha Pilih Gas Karena Lebih Hemat
( ANTARA FOTO/Arif Firmansayah)

PENGGUNAAN gas untuk industri keramik bukanlah hal yang baru. Bahan bakar dalam jumlah besar diperlukan industri keramik untuk melakukan pembakaran pada saat proses awal pembuatan keramik. Penggunaan gas menjadi pilihan utama jika dibandingkan dengan bahan bakar lain karena pasokannya jelas serta tekanannya stabil.

Diungkapkan oleh Bambang Wijonarso, Manufacturing Cileungsi Manager PT Keramika Indonesia Asossiasi, Tbk (PT KIA), bahan bakar merupakan komponen terbesar dari variabel cost yang dikeluarkan setiap bulan dari industri keramik ini. "Kegunaan gas adalah salah satu komponen yang sangat penting, karena keramik harus dibakar dan itu butuh gas, ongkos produksi yang utama adalah dari gas kurang lebih 35%, terutama dari pasokan, kualitas pasokan dan tekanan gas", ungkap Bambang dalam keterangan pers (8/5).

Pihak Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai penyedia gas bumi melalui pipa ke PT KIA juga telah mengklaim penggunaan gas untuk industri ini dapat menekan biaya produksi hingga 40 persen dari penghematan konsumsi bahan bakar. Agar industri terutama skala kecil dan menengah mampu memiliki daya saing, efisiensi bahan bakar pun menjadi tuntutan.

Bambang mengakui, setelah menggunakan gas ini selain harganya yang lebih murah dibanding bahan bakar lain, produktivitas makin tinggi, gas yang digunakan juga ramah lingkungan.

"Keunggulan gas dari bahan bakar yang lain seperti speed dryer process kita bisa menggunakan solar dan Compressed Natural Gas (CNG) bisa tapi mahal sekali, maka dari itu gas menjadi pilihan, lebih murah jika dibandingkan dengan solar dan CNG," ujar Bambang.

Bambang mengungkapkan, PT KIA sudah menggunakan gas dari tahun 1982, setelah sebelumya menggunakan residu (bottom oil). "Bisa juga menggunakan batu bara, di Indonesia batu bara bisa murah tidak ada kalori yang tinggi, karena sudah di ekspor. Namun, untuk lingkungan faktor risiko juga tinggi, keselamatan kerja juga tinggi, untuk residu sudah nggak zaman, produktivitasnya juga rendah, lingkungan tidak bagus" paparnya. (A-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Agus Triwibowo
Berita Lainnya