Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

BI Harus Evaluasi Insentif agar Dana Menetap di Indonesia

Fetry Wuryasti
08/4/2018 17:47
BI Harus Evaluasi Insentif agar Dana Menetap di Indonesia
(MI/ROMMY PUJIANTO)

POSISI cadangan devisa Indonesia akhir Maret 2018 tercatat US$126 miliar, atau kembali tergerus. Meski begitu jumlahnya masih cukup tinggi, lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Februari 2018 sebesar US $128,06 miliar dan dari posisi Januari yang sebesar US$ 131,93.

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,9 bulan impor atau 7,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan cara instan menaikkan cadangan devisa menerbitkan surat utang di pasar global.

“Tapi ini tidak berkelanjutan karena rentan terpengaruh tekanan ekonomi global dan sentimen investor asing,” ujar Bhima saat dihubungi, Minggu (8/4).

Sedangkan devisa hasil ekspor sayangnya masih banyak ditempatkan di bank luar negeri khususnya di Singapura. Ini terbukti saat tax amnesty kemarin, 58% total dana repatriasi berasal dari Singapura sebesar Rp 84,5 triliun.

Selain devisa hasil ekspor yang jadi potensi besar adalah dana hasil pembagian laba atau dividen anak usaha di Indonesia yang tiap tahun di transfer ke induk perusahaan di luar negeri.

“Bank Indonesia perlu evaluasi insentif agar devisa hasil ekspor dan dividen agar bisa menetap di Indonesia lebih lama. Atau bahkan lakukan sanksi seperti cara di Thailand yaitu minimum 6 bulan devisa hasil ekspor harus ditempatkan di bank dalam negeri,” katanya.

Dia akui, itu masalah struktural juga terutama perusahaan asing. Saat pembagian dividen defisit transaksi berjalan di tahun 2016 sebesar -2,41% terhadap PDB dan di 2017 angkanya -1,9%. Untuk tahun ini diproyeksi lebih besar dibanding tahun 2017 yakni -2,2%.

Devisa hasil ekspor tidak langsung masuk ke Indonesia karena di Singapura pajaknya lebih rendah, kemudian untuk syarat mendapat kredit dari bank Singapura harus ada simpanan di sana.

Bunga kredit valas dollar AS di bank Singapura rendah di bawah 3%, Indonesia masih mahal. Prosedur dan pelayanan nasabahnya juga jelas dan cepat.

Sehingga devisa hasil ekspor tadi bisa langsung digunakan untuk keperluan ekspor impor lainnya. Di situ kompetitifnya bank singapura.

“Oleh karena itu mesti ada kayak aturan wajib simpan dana menetap beberapa bulan dulu di Indonesia,” tukas Bhima. (X-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Victor Nababan
Berita Lainnya