Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Indonesia masih menunggu kepastian arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve). Semula, suku bunga acuan (Fed fund rate/FFR) diperkirakan mengalami penyesuaian sebanyak tiga kali sepanjang 2018. Namun, potensi itu meluas menjadi empat kali.
"Pemulihan ekonomi dunia sedang berjalan dibantu dari pemulihan ekonomi negara maju dan berkembang. Melihat AS, terlihat ada perbaikan ekonomi yang cukup baik. Kajian kami sebelumnya penyesuaian FFR sampai tiga kali, yakni Maret, Juni dan Desember. Tapi kita lihat kemungkinan kenaikan FFR empat kali," ujar Gubernur BI Agus Martowardojo seusai peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2017, Rabu (28/3).
Pada 2019 mendatang, BI memprediksi kenaikan FFR masih akan terjadi sebanyak dua kali seiring kebijakan The Fed yang semakin agresif. Terhitung sejak 2014, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan hingga enam kali. Belum lama ini, FFR naik sekitar 25 basis poin (bps).
Sementara itu, menurut Agus, BI justru berhasil menurunkan suku bunga acuan (BI-7 Days Reserve Repo Rate/BI-7DRRR) sebanyak dua kali pada 2017 lalu, yakni Agustus dan September. Dari hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) terakhir, BI masih mempertahankan suku bunga acuan di level 4,25%.
"Stance kami masih menahan BI-7DRRR. Dengan kami menahan di 4,25%, itu sejalan dengan upaya untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan stabilitas keuangan. Itu selaras dengan pemulihan perekonomian Indonesia," imbuh Agus.
Menyoroti potensi kebijakan The Fed menaikkan FFR pada pertengahan tahun, Agus tidak menampik akan terjadi volatitas. Namun, selama stabilitas ekonomi terjaga, begitu juga dengan sistem keuangan, maka Indonesia tidak akan mengalami tekanan besar.
Dia kembali menegaskan ruang penurunan bunga saat ini sudah tidak besar. Kendati demikian, bank sentral dikatakannya berupaya merespon dengan kebijakan makroprudensial.
"Dengan begitu, bank bisa ekspansi kredit dengan lebih baik dan juga bisa menjalankan intermediasi dengan lebih baik. BI akan datang dengan kebijakan rasio intermediasi makroprudensial perbankan atau penyangga likuiditas makrodimensial," sambung dia.
Selain itu, pihaknya melanjutkan kajian kebijakan loan to value (LTV) yang bertujuan memperkuat fungsi intermediasi dalam sistem keuangan.
"Jadi ke depan, BI tetap melihat perkembangan ekonomi domestik dan dunia. Kami akan merespons sesuai dengan data yang akan kami kaji saat RDG April, Mei, dan Juni," kata Agus.
Salah satu yang diamati BI ialah tingkat inflasi. Inflasi sampai Februari kemarin 3,18% masih sejalan dengan target inflasi sampai akhir tahun di angka 3,5% plus minus 1%.
"Jadi saya lihat, posisi dari BI terkait dengan kebijakan bunga adalah netral dan kami harapkan bahwa ekonomi Indonesia tetap akan baik," terang Agus. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved