Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Tanggapi Kritik Rizal Ramli, Ekonom: Kartu Kredit Lebih Pas

Erandhi Hutomo Saputra
27/3/2018 21:30
Tanggapi Kritik Rizal Ramli, Ekonom: Kartu Kredit Lebih Pas
(ANTARA)

MANTAN Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengkritik kebijakan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait penggunaan kartu kredit untuk pembelanjaan dan pembayaran kementerian/lembaga yang menggunakan anggaran pendapatan belanja negara (APBN).

Rizal menilai kebijakan tersebut salah kaprah karena bunga kartu kredit yang tinggi. Ia menilai jika ingin merekam data pembayaran maka lebih baik gunakan kartu debet.

"Saya bingung Menteri Keuangan mengeluarkan aturan pakai kartu kredit, bagaimana biaya transaksinya kan besar, bunga kredit tinggi bisa 30%. Tidak ada di negara lain transaksi kenegaraan pakai kartu kredit. Jangan-jangan ada likuiditas missmatch," ujar Rizal Ramli di Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (26/3).

Menanggapi kritik Rizal tersebut, ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menilai kebijakan penggunaan kartu kredit sudah tepat sekalipun bunga yang dibayar juga besar.

"Toh kartu kreditnya adalah produk bank BUMN, uangnya masuk lagi ke BUMN," kata Bhima saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Selasa (27/3).

Meski demikian, Bhima memahami jika Rizal menyarankan memakai kartu debet karena bunganya lebih murah. Namun, penggunaan kartu debet juga terbentur mekanisme belanja di APBN.

"Memang idealnya menggunakan debet lebih murah dan bisa di-tracking. Tapi problemnya mekanisme anggaran belanja APBN terutama untuk belanja operasional rutin tidak bisa di bayar di depan. Jadi dalam hal ini konteksnya kartu kredit lebih pas meskipun bunganya besar," jelas Bhima.

Adapun terkait kebijakan utang negara yang memiliki bunga mahal, menurut Bhima itu tidak lepas dari tingkat inflasi yang tinggi. Diketahui tingkat inflasi pada 2017 sebesar 3,6%.

"Jadi ketika bunga utang SBN-nya 6,7% maka return riil yang diterima investor hanya 3,09%. Jadi cara turunkan bunga salah satunya dengan kendalikan inflasi," ungkapnya.

Selain itu, bunga utang yang mahal juga karena rating utang yang dimiliki Indonesia saat itu masih BBB-. Sedangkan saat ini rating utang yang diterima dari Fitch sudah menjadi BBB.

Ia menyebut dalam 1 tahun terakhir bunga utang tenor 10 tahun Indonesia sudah turun.

"Kalau fundamental ekonomi membaik, dan fiskal lebih kredibel dengan terjaganya defisit, rating utang bisa naik, bunga pun bisa ditekan turun. Ke depannya harus terus di-upgrade ratingnya," pungkasnya. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya