Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Demi Jaga Pemulihan, BI Pertahankan 7-Day Reverse Repo Rate

Fetry Wuryasti
22/3/2018 19:15
Demi Jaga Pemulihan, BI Pertahankan 7-Day Reverse Repo Rate
(Dok MI)

RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Maret 2018 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate di level 4,25%. Suku bunga deposit facility juga tetap 3,50% dan lending facility bertahan di 5,00%. Semuanya berlaku efektif mulai 23 Maret 2018.

Kebijakan tersebut, kata BI, merupakan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta turut mendukung pemulihan ekonomi domestik.

"Bank Indonesia memandang bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang ditempuh sebelumnya tetap memadai untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman, di Jakarta, Kamis (22/3).

Sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai, baik yang bersumber dari eksternal seperti peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global dan kecenderungan penerapan inward-oriented trade policy di sejumlah negara, maupun dari dalam negeri terkait kenaikan inflasi.

Untuk itu, Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga keseimbangan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. Mitigasi peningkatan risiko jangka pendek menjadi salah satu fokus penjagaan itu.

BI, kata Agusman, juga semakin memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta penguatan pelaksanaan reformasi struktural.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2018 meningkat, bersumber dari perbaikan ekonomi negara maju dan berkembang. Meski demikian, terdapat beberapa risiko yang perlu dicermati. Di negara maju, pertumbuhan ekonomi AS pada 2018 diperkirakan lebih tinggi ditopang oleh investasi dan konsumsi yang menguat seiring dampak stimulus fiskal.

Kenaikan suku bunga FFR sebesar 25 bps pada 21 Maret 2018 sesuai dengan perkiraan Bank Indonesia, diikuti dengan perkiraan proses normalisasi kebijakan moneter AS yang terus berlanjut dengan suku bunga FFR yang akan kembali meningkat.

Sementara itu, ekonomi Eropa diprakirakan tumbuh lebih baik, didukung oleh perbaikan ekspor dan konsumsi serta kebijakan moneter yang akomodatif. Adapun ekonomi Tiongkok diprakirakan tetap tumbuh tinggi didorong oleh kenaikan konsumsi di tengah perlambatan investasi, khususnya real estate, seiring proses rebalancing ekonomi.

"Prospek pemulihan ekonomi global yang membaik tersebut akan meningkatkan volume perdagangan dunia yang berdampak pada tetap kuatnya harga komoditas global, termasuk minyak, pada tahun 2018. Namun pertumbuhan ekonomi AS yang lebih tinggi dapat mendorong kemungkinan kenaikan FFR yang lebih cepat dari perkiraan semula," kata Agusman. (X-12)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya