Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Jelang Sidang The Fed, Rupiah Diprediksi kian Tertekan

Tesa Oktiana Surbakti
11/3/2018 16:07
Jelang Sidang The Fed, Rupiah Diprediksi kian Tertekan
()

PERGERAKAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih harus diwaspadai, terutama mendekati pertemuan Federal Open Market Comittee (FOMC) pada 20-21 Maret 2018. Kurs rupiah pekan depan diperkirakan berada di level Rp13.700-Rp13.820 per US$.

Sebelumnya dalam perdagangan Jumat (9/11) lalu, nilai tukar rupiah mengacu pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) ditutup pada level Rp 13.794 per US$.

"Bank Indonesia diprediksi akan terus lakukan operasi moneter untuk stabilisasi rupiah. Tapi puncak pelemahan rupiah perlu dicermati mendekati rapat Federal Open Market Committee," ujar ekonom Indef Bhima Yudhistira kepada Media Indonesia, Minggu (11/3).

Bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), sudah memberikan sinyal kuat adanya kebutuhan penaikan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) lebih dari tiga kali sepanjang 2018.

Tekanan faktor global itu disebut Bhima akan menyeret pelemahan rupiah ke level Rp13.900-Rp 14.000 per US$. Apalagi rilis data teranyar perihal ketenagakerjaan AS yang positif bertambah 313 ribu orang, membawa sentimen bagi The Fed untuk meningkatkan suku bunga acuan pada Maret ini.

"Fed Fund Rate yang naik di kisaran 10-25 basis poin (bps), memicu keluarnya dana asing dari Indonesia," imbuh Bhima.

Dari sisi kebijakan moneter, dia memandang ketahanan cadangan devisa harus diwaspadai hingga akhir tahun. Posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Februari 2018 tercatat US$128,06 miliar. Posisi tersebut mengalami penurunan dibandingkan Januari 2018 sebesar US$ 131,98.

Penurunan cadangan devisa terutama dipengaruhi penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilitasi nilai tukar rupiah. Bank Indonesia menyatakan besaran cadangan devisa itu masih cukup membiayai 8,1 bulan impor atau 7,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional, yakni 3 bulan impor.

Terhadap kondisi kurs rupiah yang pelemahannya diprediksi berlanjut, Bhima memandang BI perlu menaikkan suku bunga acuan (BI 7-Day Reserve Repo Rate) sebesar 25-50 bps agar tingkat return investasi domestik masih menarik bagi investor.

Menyoroti aspek kebijakan fiskal, pemerintah harus mencermati deviasi rupiah dan tren kenaikan harga minyak mentah yang semakin jauh dari asumsi APBN 2018.

Asumsi kurs rupiah semula ditetapkan Rp13.400 per US$, sedangkan harga Indonesian Crude Price (ICP) dipatok US$48 per barel. Menurut Bhima, pemerintah perlu merevisi asumsi makro dalam APBN.

"Di samping itu, pemerintah semestinya mempertimbangkan kebijakan pemotongan anggaran. Khususnya belanja infrastruktur agar defisit lebih dengan target 2,19% terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap terjaga, berikut kebijakan fiskal pun tetap kredibel. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya