Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Garuda Rugi US$213,4 Juta di 2017

Fetry Wuryasti
26/2/2018 21:07
Garuda Rugi US$213,4 Juta di 2017
(MI/MOHAMAD IRFAN)

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) pada 2017 mencatatkan rugi sebesar US$213,4 juta. Salah satu cara menanggulanginya, mereka akan menerbitkan global bond dan obligasi di pasar domestik pada pertengahan 2018. Itu untuk mencapai target laba bersih garuda di 2018 sebesar US$8,7 juta.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda, Helmi Imam Satriyono, mengatakan pihaknya akan menerbitkan global bond pada Juni mendatang senilai US$750 juta dan obligasi domestik senilai US$200 juta. Meski belum melakukan roadshow untuk global bond, mereka telah menunjuk empat bank sebagai penjamin.

"Belum roadshow, menunggu RUPS dahulu. Tapi sudah ada penunjukkan. Empat bank tersebut Standard Chartered, ANZ, Deutsche Bank, Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ (BTMU)," ujarnya saat paparan kinerja di Jakarta, Senin (26/2).

Sedangkan untuk obligasi domestik, Helmi mengatakan GIAA masih melihat dan mengkaji struktur yang paling baik.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury, terkait utang perusahaan sebesar US$213,4 juta sepanjang tahun 2017 termasuk post extraordinary expenses. Bila pos khusus tersebut tidak dimasukan dalam laba rugi, maka kerugian perusahaan sebesar US$67,6 juta.

Pos tersebut antara lain mencakup membukukan biaya terkait keterlibatan perusahaan dalam amnesti pajak dan menyelesaikan urusan kasus hukum di Australia di 2017 sebesar US$7,5 juta. Total mereka menghabiskan US$145 juta.

"Selain itu, memang pada triwulan pertama tercatat negatif yang cukup besar, sekitar kerugian sebesar US$99 juta, tidak termasuk pos khusus. Namun setelah triwulan pertama, tercatat keuntungan di luar pos khusus sebesar US$32 juta," jelas Pahala.

Sepanjang 2017, Garuda Indonesia berhasil menekan catatan kerugian dari rugi sebesar US$99,1 juta di kuartal I-2017 berkurang menjadi rugi US$38,9 juta pada kuartal II-2017.

Kemudian perusahaan berhasil membukukan laba bersih sebesar US$61,9 juta pada kuartal III-2017 dan laba bersih di kuartal IV-2017 sebesar US$8,5 juta.

Dari sisi biaya, kembali dijelaskan Helmi, kenaikan cukup besar terjadi pada biaya bahan bakar yaitu sebesar 27,2%. Itu membuat rata-rata harga tiket naik sebesar 1,4% pada Garuda Indonesia, dan 2,4% pada Citilink. Pada 2016, biaya bahan bakar sebesar US$924,7 juta, di 2017 mencapai US$1,1 miliar.

"Kemudian biaya rental pesawat naik 20%, maintenance tumbuh 10,1%. Sehingga total biaya selama 2017 tumbuh 13%, didominasi biaya bahan bakar," jelas Helmi.

Sepanjang 2017, GIAA membukukan pendapatan operasi sebesar US$4,2 miliar atau meningkat 8,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$3,9 miliar. Mereka juga mencatatkan tingkat keterisian penumpang (seat load factor) sebesar 74,7% dengan tingkat ketepatan waktu (on time performance/OTP) sebesar 86,4%.

Tren pertumbuhan pendapatan operasional salah satunya ditopang oleh penumbuhan pendapatan operasional pada lini layanan penerbangan tidak berjadwal yang meningkat sebesar 56,9% atau menjadi US$301,5 juta. Selain itu sektor pendapatan lainnya di luar bisnis penerbangan dan penerimaan subsidiary turut meningkat 20,9% dengan pembukuan pendapatan sebesar US$473,8 juta.

Untuk menekan beban operasional , GIAA melakukan efisiensi dengan menutup 10 rute penerbangan yang tidak memberi keuntungan. Restrukturisasi rute ini dilakukan dengan menambah kuota dalam rotasi pesawat, dan mengkaji ulang kinerja yang belum baik.

"Kami belum putuskan, tapi masih akan melihat 1-2 bulan ke depan. Tapi kami juga membuka beberapa pengembangan rute baru, seperti ke Manila Filipina, Ho Chi Minh dan Hanoi Vietnam," tukas Pahala. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya